SLEMAN – Kelangkaan premium bersubsidi sejak beberapa hari ini mulai meresahkan masyarakat. Bukan hanya sopir angkutan umum, tukang ojek, atau omprengan sayur. Petani dan buruh pabrik pun khawatir akan terkena dampak langsung pengurangan jatah premium ini.Supardi,55, misalnya. Sopir pikap yang setiap hari mengangkut sayuran dari lereng Gunung Merapi itu mulai sering terlambat kirim barang di pasar. Bapak dua anak itu biasa mengambil sayur dari petani sejak pagi buta, sekitar pukul 02.00 dini hari. Padahal, biasanya, sebelum subuh, sayuran sudah sampai ke tangan pedagang di pasar-pasar tradisional di Sleman. Sejak dua hari lalu, dagangan yang dia bawa sedikit terlambat. Itu lantaran hingga tengah malam sebelumnya, Grand Max pikap milik Supardi kehabisan bahan bakar. “Saya nyari-nyari di SPBU habis semua. Akhirnya dapat di pedagang eceran,” ungkapnya.
Harga premium eceran pun sudah menembus Rp 10 ribu per liter. Supardi pun terpaksa membelinya supaya dagangan sampai tujuan tepat waktu. “Wah, kalau molor, sayuran bisa tidak laku. Siang sedikit saja sudah dibilang nggak segar lagi,” ungkapnya.Sunaryo,61, tukang ojek di Jalan Magelang juga mengeluh karena harus beli pertamax untuk sepeda motor Honda Grand 1996 miliknya. Untuk memperoleh bahan bakar seharga Rp 11.500 per liter pun, warga Turi itu harus antre setengah jam. “Lha, bagaimana lagi. Premium habis, semua membeli pertamax,” katanya.Soal antrean di pom bensin tidak terlalu disoal oleh Sunaryo. Masalah lain kini menghadangnya. Dia bingung pasang tarif bagi pelanggannya. Tidak mungkin perjalanan satu sampai dua kilometer dia menarik Rp 5 ribu atau Rp 10 ribu seperti biasanya. “Wah nggak cucuk, mas, kalau harus pertamax terus. Wong cilik nggak bisa apa-apa,” ungkap kakek dua cucu itu.
Haryanto,29, sopir angkutan pedesaan itu juga mulai resah kehilangan konsumen. Kelangkaan premium sempat diamininya, dengan harapan terjadi penurunan pngendara sepeda motor, yang beralih ke angkutan umum. Faktanya tidak demikian. “Sudah isinya pertamax, malah sepi. Jadi cuma muter-muter buang bahan bakar,” katanya.Di sisi lain, sopir angkot tidak berani menaikkan ongkos trayek karena khawatir ditinggalkan pelanggan. Konsekuensinya, Haryanto harus rela nombok. Setidaknya, dia harus pulang tanpa hasil. “Gur kesel tok. Biasa itu sejak harga premium naik dulu,” beber pria bergelar sarjana itu.Aryanto Nugroho, karyawan sebuah pabrik konveksi di Sleman justru khawatir jika kelangkaan premium berdampak negatif pada buruh. “Kalau berlarut-larut bisa jadi akan ada PHK,” katanya.
Semua profesi yang identik dengan sebutan “wong cilik” itu menaruh harapan besar pada pemerintah bisa segera memecahkan solusi kelangkaan premium. “Paling tidak, di era Jokowi, semua bisa lebih baik,” lanjut Aryanto.Harga bensin di penjual eceran menembus Rp 10 ribu per liter. Para penjual beralasan butuh “perjuangan” untuk mendapatkannya. Karena itulah menaikkan harga jual menjadi solusinya. Selain persoalan antrian panjang, pedagang pun dibatasi dengan pembelian maksimal 20 liter per harinya. Padahal, sebelumnya bisa membeli 60 liter per hari. “Di SPBU antriannya panjang. Pembelian juga dibatasi hanya 20 liter per hari,” kata Warisno pedagang eceran di Sendangagung, Minggir, Sleman kemarin (26/8).(yog/fid/din)