JOGJA – Belum lama ini, Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menggelar pentas ketoprak kolosal. Tepatnya pada hari Sabtu (9/8) dan Minggu (10/8) pekan lalu. Pementasan kali ini mengangkat lakon Sumunaring Surya ing Gagat Rahina karya SH Mintardja. Uniknya naskah ini dihadirkan dalam wujud ketoprak konvensional dan eksperimental.Kepala TBY Diah Tutuko Suryandaru mengungkapkan pementasan ini sangatlah penting. Dimana mampu melihat perkembangan kesenian ketoprak di Jogjakarta. Apalagi ketoprak ini dihadirkan bersanding dalam gaya yang lawas dan baru. “Dari segi generasi mungkin berbeda tapi semangatnya sama. Dimana menghadirkan ketoprak dengan dua versi yang berbeda tapi tetap kaya,” katanya.
Pementasan hari pertama dengan lakon Sumunaring Surya ing Gagat Rahina digarap oleh Susilo Nugroho. Bersama tim sutradara lainnya seperti Widayat, Bambang Paningron, Nano Asmorodhono, Puntung CM Pudjadi dan Toelis Semero.Dalam naskahnya, Susilo menghadirkan sosok Sultan Hadiwijaya. Cerita ini mengisahkan kehidupan sang raja yang mulai bergelimang kemewahan. Terbalik dengan kehidupan rakyat yang semakin sengsara. Konflik inipun terus berlangsung meski sang raja sudah dinasehati. “Bahkan seorang rakyat jelata, Klinthing Wesi sampai menjauhi rajanya. Padahal tugas seorang raja itu adalah menjaga amanat rakyat,” kata Susilo.
Dalam mengusung pementasan ini Susilo dan timnya tetap mempertahankan pakemnya. Tujuannya agar generasi baru mengerti roh dari kesenian ketoprak. Selain itu juga mengetahui tata urutan pementasan ketoprak tradisional.Menurut Susilo pementasan konvensional seperti ini wajib dijaga. Meskipun sejatinya ketoprak mengikuti dinamika masyarakat. Ini sebagai warisan kekayaan seni budaya, keaslian ketoprak tetap dipertahankan. “Tetap ada usaha untuk mempertahankan dalam wujud pakem-pakem yang asli. Misal gandrung, gending atau unsur ketoprak lainnya. Keaslian seperti ini jangan dibenturkan dengan ketoprak baru tapi disandingkan,” kata Susilo.Anggapan Susilo terhadap dunia ketoprak akan bertahan terbukti. Ini terlihat dari penuhnya penonton di Concert Hall TBY malam itu. Bahkan dalam kesempatan ini penonton merata dari generasi muda hingga para orang tua. “Tetap optimistis bahwa dunia ketoprak akan tetap bisa bertahan ke depannya. Baik itu konvensional ataupun eksperimental,” tandas Susilo. (dwi/ila)