JOGJA – Ramadan 1435 H kali ini dimanfaatkan oleh para pengurus Masjid Syuhada Kotabaru, Jogja untuk mengangkat kekayaan Islam Indonesia. Hal ini terwujud dalam 14 hari pertama bulan Ramadan. Dua minggu pertama menghadirkan perspektif Islam daerah di Indonesia.Secara khusus program ini dikemas dalam tema Ramadan Budaya Islam Nusantara. Hal ini dikatakan oleh Direktur Eksekutif Yayasan Masjid dan Asrama (Yasma) Syuhada Muhamad Ansori. Menurutnya mengangkat tradisi Islam di daerah sangatlah penting. “Seperti yang kita tahu, Islam di Indonesia sangatlah kaya. Dimana mampu berakulturasi dengan budaya asli daerah. Selain kaya juga memperkuat tonggak Islam di Indonesia,” kata Ansori ditemui di masjid Syuhada belum lama ini.
Dalam menghidupkan tema ini Ansori dan timnya menggandeng 12 asrama daerah di Jogjakarta. Dalam kesempatan ini setiap asrama daerah menampilkan ragam kekayaan budaya. Selain itu, untuk melengkapi ada juga santap kuliner khas daerah sebagai hidangan berbuka puasa.Ansori menambahkan dengan adanya tema ini maka turut memperindah pluralisme di Indonesia. Dalam sejarahnya, menurut Ansori, Islam selalu berakulturasi dengan budaya daerah. Sehingga wujud syiar Islam ini mampu diterima oleh masyarakat pada waktu itu.
Selain itu, dalam wujud akulturasi ini juga menguatkan bahwa budaya daerah dan Islam tidak bertentangan. Justru keberagaman ini mampu mengisi satu sama lain sehingga menjadi lebih berwarna dan indah. “Tentunya Islam di tanah Jawa dengan Islam di tanah Sumatera maupun Kalimantan berbeda. Bahkan di tanah Sumatera antara Aceh dengan Minang pun berbeda. Inilah tujuan kita mengangkat kekayaan Islam Nusantara,” kata Ansori.Untuk penyelenggaraan hari pertama dibuka dengan budaya Islam Aceh. Selanjutnya bergantian, Minang, Islam di Jawa. Kemudian di tanah Kalimantan dan daerah lainnya. Untuk susunan acara diserahkan sepenuhnya kepada pemuda daerah. Sehingga dalam kesempatan ini mampu menunjukkan kekayaan seni daerah. Sedangkan untuk kuliner juga disiapkan secara khusus oleh para perwakilan asrama daerah. Sehingga menu sajian berbuka tersaji sesuai khas daerah masing-masing. (dwi/ila)