SEMENTARA ITU, Tarian kedua karya Didik Nini Thowok menampilkan tari berjudul Dwi Muka. Tari ini merupakan salah satu ciri khas Didik Nini Thowok lainnya. Menari dengan dua muka, Didik mampu berperan menjadi dua penari dengan karakter yang berbeda.Dalam karyanya kali ini Didik menghadirkan tiga tarian sekaligus yang dikemas secara medley. Tari pertama adalah tari Dwi Muka Jepindo. Tarian ini merupakan wujud kolaborasi kesenian Jepang dan Indonesia. Kedua tarian ini merupakan tari yang mengusung tradisi yang dikemas dalam satu tarian. “Jadi tarian ini dibagi menjadi dua karakter dalam satu tubuh. Karakter Jepang di tubuh depan, dan karakter Indonesia di tubuh belakang. Untuk menghidupkan tarian juga diusung unsur gerak komedi,” kata Didik.
Tarian kedua menampilkan cuplikan Tari Legong Bapang Gaya Saba. Tarian ini merupakan tarian khas Bali. Dikarenakan mengusung tema medley, maka pergantian kostum dilakukan secara spontan diatas panggung. Meski begitu proses pergantian ini mampu dikemas secara apik. Ini karena Didik menggunakan penari tambahan sebagai pelengkap tarian. Dalam segmen Dwi Muka sendiri, Didik lebih cenderung tampil solo atau individu. “Tapi karena kebutuhannya untuk pendokumentasian maka diciptakanlah koreografi baru. Koreografi ini melibatkan puluhan penari, baik di segmen tarian pertama dan kedua. Sifatnya melengkapi keindahan dengan gerakan yang sederhana namun terlihat rampak,” kata Didik.
Tarian ketiga mampu menjadi klimak dari pementasan malam itu. Dimana Didik menampilkan karakter perempuan melalui topeng-topengnya. Tarian ini sejatinya mengusung tema jenaka melalui gerakannya. Namun atas imbauan penyelenggara, selama pementasan penonton dilarang untuk tertawa.Lebih lanjut dalam tarian ini Didik ingin menampilkan keindahan seorang perempuan. Menurutnya perempuan di dunia ini hanya ada tiga yaitu cantik, jelek dan tua. Dalam porsi sebuah pementasan tari, lebih kerap menampilkan wajah perempuan yang rupawan.
Kebalikannya, Didik menampilkan karakter jelek dan tua dalam tarian ini. Ini terlihat dari topeng dan gestur gerakan yang ditampilkan. Tarian ini ingin menggambarkan bahwa semua perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai bidang. “Padahal semua pasti ingin tampil dan memiliki eksistensi. Pada kehidupan nyata sering kita melihat perempuan berdandan maksimal agar tetap terlihat menarik. Nah melalui tarian ini, saya ingin mewakili suara dan wujud eksistensi mereka,” kata Didik. (dwi/ila)