JOGJA – Upaya melestarikan kesenian tradisi maupun kreasi baru terus digenjot oleh Pemprov DIJ. Salah satu seniman yang karyanya ditampilkan adalah seniman tari Didik Nini Thowok. Pekan lalu bertempat di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dua tarian karyanya dipentaskan.Kedua tarian ini merupakan karya pemilik nama asli Didik Hadi Prayitno selama menggeluti dunia tari. Pria kelahiran Temanggung, 13 November 1954 ini mengungkapkan kedua karyanya ini memiliki makna yang berbeda. “Tarian pertama adalah Dewi Sarak Jodag Gandrung yang mengangkat cerita Panji. Sedangkan tarian kedua adalah Dwi Muka yang merupakan salah satu tarian kreasi baru,” kata Didik ditemui di kantor LPK Tari Natya Lakshita, Godean, Jogjakarta belum lama ini (15/7).
Tarian ini merupakan cerita tradisi yang dikemas dalam sebuah tari kerasi baru. Tarian ini menggambarkan Dewi Sarak Jodag yang merupakan adik Raja Klana. Dewi ini sedang gandrung atau jatuh cinta kepada Raden Panji yang telah beristri Dewi Sekartaji.Melalui kesaktiannya, Dewi Sarak Jodag mengubah wujudnya menjadi Dewi Sekartaji. Namun penyamaran ini tidak dapat mengelabui Raden Panji. Tarian ini, menurut Didik, menonjolkan kemarahan, rasa malu, sedih dan kecewa seorang perempuan. “Tarian ini pertama kali dipentaskan pada bulan Mei 2005 di Tsurumi Center, Osaka, Jepang. Waktu itu dalam acara Indonesian Festival dan Save Aceh. Bercerita tentang Dewi Sarak Jodag yang gandrung kepada Raden Panji tapi tidak tersampaikan,” kata Didik.Proses pembuatan karya ini memerlukan proses yang bertahap. Tentunya Didik harus terlebih dahulu melakukan pendalaman karakter Dewi Sarak Jodag. Hal ini dilakukan karena pementasan tunggal fragmen Dewi Sarak Jodag masih jarang dilakukan.Upaya Didik mengangkat kisah ini diawali dengan mengunjungi almarhum Ki Wasito Dipuro. Didik belajar karakter Dewi Sarak Jodag kepada maestro karawitan ini. Mulai dari gesture hingga cara tertawanya. Dari sinilah Didik mendapatkan gambaran sifat dan watak dewi yang berwujud seperti raksasa ini. “Waktu itu mendapatkan pengetahuan tentang cara tertawanya yang mirip suara anjing. Dari sinilah lalu menggali karakter Dewi Sarak Jodag lebih dalam,” kata Didik.
Melengkapi karyanya ini, Didik juga bertemu dengan seniman pembuat topeng Supono. Kepada Supono, Didik lalu memesan topeng karakter Dewi Sarak Jodag. Uniknya dalam membuat topeng ini, Didik terinspirasi dari Topeng Hanyya yang digunakan pertunjukan drama Noh di Jepang.Terlebih topeng Hanyya memiliki karakter seperti setan yang memiliki mimik muka marah. Oleh Supono agar karakternya tidak terlalu Jepang maka dibumbui karakter Jawa. Dalam karakter Jawa rasa amarah selalu disimbolkan dengan warna merah. “Jika di Jepang topeng karakter ini menggunakan tanduk tapi disini dipotong. Uniknya topeng Hanyya bertanduk itu juga perlambang dari seorang setan perempuan,” kata Didik.
Dalam tarian pertama ini, Didik membaginya menjadi tiga fragmen. Tarian pertama diawali dengan Dewi Sarak Jodag yang berubah menjadi Dewi Sekartaji. Fragmen kedua menampilkan Dewi Sarak Jodag yang sedang gandrung. Wujud asli raksasa ini terbuka saat Didik berganti dengan topeng ekspresi jelek. Pada fragmen ini digambar Dewi Sarak Jodag sedang mabuk kepayang sehingga lupa diri. “Fragmen ketiga ditutup dengan kemarahan, sedih dan rasa malu Dewi Sarak Jodag. Kolaborasi multimedia juga diusung dalam penggarapan ini. Bahkan juga memasukan beberapa unsur film kartun dan cerita dongeng,” kata Didik.Sementara itu Kepala Seksi Rekayasa Budaya Dinas Kebudayaan DIJ Agus Amrullah mengungkapkan pelestarian ini sangtalah penting. Wujudnya dengan mengemas dalam program Pelestarian Pengembangan dan Aplikasi Budaya Luhur di Masyarakat. “Usaha pelestarian ini akan terus digalakan tidak hanya tradisi tapi juga kreasi baru karya para maestro. Mulai dari gending, tarian hingga pementasan drama kolosal akan kita garap secara serius,” kata Agus. (dwi/ila)