MASJID yang berada dalam komplek Museum Sonobudoyo Unit II ini menjadi tempat ibadah warga dan wisatawan yang datang. Bendahara Masjid Condrokiranan Sidi Hartono mengungkapkan awalnya masjid ini hanyalah musala. Seiring waktu berjalan, warga sekitar berinisiatif melakukan pelebaran. Penambahan serambi di sisi timur setelah mendapatkan izin pengurus Museum Sonobudoyo Unit II.
“Awalnya hanya digunakan untuk ibadah pegawai dan pengunjung museum. Lalu warga juga mulai beribadah di musala. Akhirnya setelah mengalami renovasi, barulah tahun 2001 berubah menjadi Masjid Condrokiranan,” kata Sidi kemarin (10/7).
Ornamen masjid ini memiliki kesederhanaan yang memiliki nilai filosofi. Menurut Sidi, ornamen ini melambangkan perlunya manusia yang hidup sederhana. Meski memiliki kelebihan namun tetap berperilaku sederhana.
Selain itu, juga mengajak manusia untuk hidup rukun sesamanya. Menurutnya filosofi ini sangat penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi manusia sebagai makhluk sosial yang hidup saling membutuhkan. “Tentunya ini penting bagi kerukunan dalam semua kehidupan. Selain tetap menjalankan ibadah kepada Allah SWT, juga tetap menjalin hubungan baik dengan sesama manusia,” kata Sidi.
Akses menuju masjid ini sangat mudah dijangkau dari arah Wijilan. Karena letaknya yang berada di pusat wisata gudeg. Inipula yang membuat masjid ini kerap menjadi tempat ibadah para wisatawan di seputar Wijilan.
Menyambut Ramadan 1435 H, sejumlah agenda telah disiapkan di Masjid Condrokiranan. Saat berbuka puasa tersedia takjil bagi warga maupun wisatwan yang mampir. “Selain itu juga ada Safari Ramadan oleh jajaran Kecamatan Kraton,” kata Sidi. (*/ila)