JOGJA – Dalam benteng Keraton Jogjakarta terdapat enam bangunan masjid. Diantara keenam masjid ini, dua masjid yaitu Masjid Soko Tunggal dan Masjid Margo Yuwono memiliki kekayaan ornamen. Jika Masjid Soko Tunggal ornamennya banyak terdapat pada tiangnya. Sementara di Masjid Margo Yuwono memiliki kekayaan ornamen interior.
Masjid Margo Yuwono yang terletak di Langenastran merupakan masjid yang termasuk dalam bangunan cagar budaya. Masjid yang berdiri sejak tahun 1942 ini dibangun oleh seorang arsitek asal Belanda. Meski begitu dalam pembangunannya mengadopsi bentuk bangunan Jawa kuno. “Bangunan ini terinspirasi dari arsitektur bangunan Keraton Jogjakarta. Bahkan sang arsitek juga mempelajari arsitek pendiri Keraton Jogja,” kata Ketua Yayasan Masjid Margo Yuwono Ir Sumardjito, M.T.Ars (7/7).
Sebelum berdiri sebagai Masjid, bangunan bersejarah ini berdiri sebagai langgar. Bangunan ini berdiri di tanah milik Bahukertiko dan dibantu Prawiro Yuwono. Bahukertiko sendiri merupakan salah seorang penggawa Keraton Jogja. Masjid ini berdiri di atas tanah seluas 1.000 m2 dengan ciri khas masjid Jawa kuno. Bangunan ini memiliki beberapa bagian yang terdiri dari bangunan inti dan serambi. Kedua bagian ini memiliki kekayaan ornamen.
Terlebih interior masjid memiliki filosofi yang kuat. Sumardjito mengungkapkan interior ini terlihat dari tiang-tiang penyangga masjid. Mulai dari bentuk hingga warnanya, kental dengan makna dan filosofi. “Salah satunya adalah nanasan karena bentuknya mirip buah nanas. Nanasan disebut pula omah tawon atau tawonan, Ada pula yang menyebut bentuk pritgantil. Dalam seni rupa Islam, hiasan semacam ini mirip dengan hiasan maqamas,” kata Sumardjito.
Dalam perkembangannya, masjid mengalami beberapa pengambangan. Pengembangan ini tanpa mengubah bangunan asli dari Masjid Margo Yuwono. Penambahan berupa bangunan di sisi utara yang berfungsi sebagai TPA dan timur sebagai pusat pelatihan ustadz. TPA ini sendiri menjadi jujugan tidak hanya anak-anak sekitar masjid namun dari luar wilayah kecamatan Keraton. Untuk TPA sendiri menampung kurang lebih 200 anak. Semakin lengkap dengan adanya pusat pelatihan ustadz sebagai pendamping bagi anak-anak TPA. “Minat yang besar tidak hanya dari warga sekitar masjid. Sehingga melebarkan bangunan di sisi utaranya. Fungsinya sebagai tempat pengajian anak dan pelatihan ustadz,” tandasnya.
Sementara itu, menyambut Ramadan sejumlah agenda khusus juga telah disiapkan. Seperti Pasar Sore Ramadan di sepanjang Jalan Langenastran, Keraton. Total ada 30 stan yang menyediakan aneka ragam hidangan berbuka puasa. Semakin lengkap dengan mengusung tajuk Ramadan bukan Sekadar Rutinitas tapi Membentuk Insan yang Berkualitas. Ketua Ramadan Masjid Margo Yuwono Muhammad Alfian Kusuma mengungkapkan ada juga pesantren kilat. “Untuk pesantren diadakan selama dua hari 12 dan 13 Juli dengan mengajak 200 anak. Tujuannya untuk melahirkan generasi Islam yang kuat,” kata Alfian. (dwi/ila)