JOGJA – Sebagai raja pertama di bumi Mataram, Sri Sultan Hamengku Buwono I memiliki banyak peninggalan. Salah satu peninggalan yang berharga adalah Masjid Sela Panembahan yang berdiri tahun 1787 masehi. Untuk penanggalan Jawa, masjid yang beralamatkan di Kelurahan Panembahan, Kecamatan Keraton, Jogjakarta ini berdiri pada tahun 1709 Caka.
Ketua Takmir Masjid Sela Panembahan Ali Tantowi mengungkapkan masjid ini memiliki sejarah tinggi. Pada awal berdiri, masjid ini kerap digunakan untuk beribadah raja dan keluarganya. Ini karena pembangunan Keraton Jogja pada waktu itu masih berlangsung. “Pembangunannya sendiri bersamaan dengan pasanggrahan Taman Sari dan Pulo Gedong serta panggung Krapyak. Untuk arsitektur sangat mirip dengan Taman Sari, terlihat dari atapnya,” kata Ali (3/7). Ali menambahkan untuk membangun masjid, arsitek didatangkan khusus dari Portugis. Tembok bangunan masjid inipun istimewa karena memiliki ketebalan 60 cm. Sedangkan untuk pembangunannya menggunakan teknik khusus.
Bangunan tua ini, menurut Ali, tidak menggunakan besi cor sebagai pondasi. Sebagian atap bangunan memiliki bentuk, corak dan lung-lungan semi. Sedangkan bangunan menggunakan campuran pasir, legen, batu gamping dan putih telur sehingga kuat seperti batu. “Selain itu bangunan ini juga memiliki filosofi tinggi. Dimana atapnya berwujud kerucut ke atas yang melambangkan sang pencipta. Kerucut ini bertemu dari empat penjuru mata angin,” kata Ali.
Uniknya masjid ini sempat tidak digunakan beribadah selama beberapa dekade. Ini karena setelah Keraton Jogjakarta selesai dibangun, semua keluarga raja diboyong. Jadilah masjid ini hanya sebagai tempat penyimpanan keranda jenazah dan tombak prajurit keraton. Barulah tahun 1962, beberapa sesepuh Kampung Panembahan menghadap Keraton Jogja. Atas permintaan warga, masjid ini difungsikan kembali sebagai tempat beribadah. Untuk kepengurusan masjid diserahkan total kepada warga Kampung Panembahan. “Sebelum tahun 1962 kegiatan-kegiatan ibadah masih di rumah penduduk. Perombakan sangat minim sekali karena termasuk bangunan cagar budaya. Dulu memang ada kolam melingkar yang merupakan ciri khas masjid keraton,” kata Ali.
Namun, saat ini kolam sudah ditutup dan menjadi halaman masjid. Sedangkan di sisi utara dan selatan ada penambahan serambi masjid. Fungsi bangunan ini selain sebagai tempat ibadah juga tempat pengajian anak. Akses menuju masjid ini sangat mudah dijangkau karena berada di areal benteng keraton. Jika dari utara, melalui Plengkung Wijilan hingga perempatan pertama belok ke kanan. Sekitar 30 meter ada gang dengan tulisan Masjid Sela Panembahan. (dwi/ila)