Beberapa minggu terakhir ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta (TBY) mampu menyedot ribuan manusia. Selama lebih dua pekan, tempat ini memajang karya-karya seniman muda dan senior. Bertajuk Legacies of Power, ART|JOG|14 menampung karya dari 103 seniman lintas disiplin ilmu.Pameran yang semula dijadwalkan berakhir 22 Juni lalu ini ternyata mengalami perubahan. Tingginya jumlah pengunjung dan adanya permintaan membuat penutupan pasar seni rupa ini diundur selama satu minggu. Alhasil, pameran ini akan bertahan di TBY hingga 29 Juni.
“Banyaknya permintaan dari pengunjung, kolektor, juga teman-teman seniman untuk diundur. Masukan ini kita dapatkan dari ketemu langsung, via email, hingga sosial media. Tentunya ini sebuah apresiasi yang luar biasa,” kata CEO Art Jog Heri Pemad saat ditemui di TBY kemarin (24/6).Pemad menyatakan, rata-rata alas an permintaan pengunduran jadwal justru dari pengunjung umum. Ini karena minggu-minggu ini bertepatan dengan masa liburan sekolah. Tentunya ini merupakan sebuah pertanda baik bagi dunia berkesenian di Indonesia dan khususnya Jogjakarta. “Rata-rata pengunjung didominasi anak muda dan pelajar. Selain itu, tidak sedikit keluarga yang memanfaatkan momentum ini sebagai kegiatan wisata. Tentunya sebuah cara yang edukatif dalam menikmati liburan,” kata lelaki kelahiran Sukoharjo 12 April 1976 ini.
Berbicara tentang pengunjung, Pemad menyatakan, antusiasme meningkat. Meski penyelenggaraan tahun ini menerapkan biaya masuk, hal itu tidak menyurutkan minat pengunjung. Terbukti dari data yang terkumpul, ada sekitar 2.500 hingga 3.000 tiket terjual setiap hari.Jumlah kehadiran pengunjung, menurut Pemad, mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Penerapan biaya masuk ini juga sebagai wujud edukasi berkesenian. Faktor pertama adalah wujud penghargaan terhadap karya seniman yang ikut berpameran. Kedua adalah sebagai biaya penutup operasional selama penyelenggaraan Art Jog.
Hasil dari penjualan tiket juga dipersiapan sebagai tabungan untuk penyelenggaraan Art Jog ke depan. Dengan cara ini diharapkan mampu melihat karya seni sebagai sebuah karya seniman. “Inilah yang sedang kita bangun di Jogjakarta untuk melihat sebuah karya seni. Wujud edukasi ini merupakan salah satunya, agar tidak melihat karya hanya sebagai objek yang digantung di dinding ruang pamer,” kata Pemad.Lelaki yang pernah menimba ilmu di seni lukis ISI Jogjakarta ini juga terbuka untuk kritik. Penyelenggaraan Art Jog tahun ini pun tak terlepas dari banjir kritik. Salah satu kritikan yang paling dominan adalah pengunjung yang masih melanggar etika.
Meski diawal sudah diberikan edukasi baik melalui guide maupun tiket masuk, tetap saja ada pelanggaran. Keluhan yang paling kerap ditampung oleh tim Art Jog adalah banyaknya pengunjung yang melakukan selfie di dekkat karya. Para penikmat karya asli tidak bisa menikmati karya dengan maksimal.Pemad menanggapi kritik ini. Sebagai CEO, dia tidak bisa melarang pengunjung untuk selfie. Tapi, di sisi lain selfie juga menjadi masalah tersendiri untuk sebuah penyelenggaran pameran seni. “Tentunya ada sebuah edukasi untuk pengunjung agar mengerti hal ini. Tidak hanya melihat dari sisi keindahannya saja, tapi menangkap makna. Sebuah karya seni sejatinya adalah wujud pikiran, kegelisahan seorang seniman,” kata Pemad.
Adanya fenomena ini, Pemad dan timnya pun sedang merancang sebuah agenda khusus. Bertepatan dengan penutupan Art Jog 29 Juni bakal ada sebuah diskusi khusus. Diskusi ini akan mengambil tema Membaca Fenomena Pengunjung Art Jog.Bagi Pemad, jumlah kunjungan dalam pasar seni rupa ini merupakan sebuah fenomenal. Namun dengan adanya fenomena di baliknya justru menjadikan tugas rumah yang berat. Wujud diskusi ini yakni menghadirkan sejumlah pakar mulai seniman, kurator, pakar psikologi masa, hingga pelaku budaya. “Kita tidak melihat ini sebagai sebuah kesalahan. Dengan datang setidaknya mereka sudah ada rasa ingin tahu dan peduli. Tugas kita selanjutnya bagaimana menyampaikan makna dari setiap karya. Juga menggugah rasa ingin tahu yang lebih dalam tentang sebuah karya kepada pengunjung,” kata Pemad.
Diskusi ini, menurut Pemad, merupakan kegiatan yang sangat penting. Terlebih Jogjakarta sebagai gudangnya seni. Di mana dalam setiap kesempatan selalu ada kegiatan seni dan budaya. Pengunjung diharapkan tidak hanya menjadi penikmat. Tapi, juga melihat makna karya. “Dari data hanya sekitar 10 hingga 20 persen pengunjung yang bertanya ke guide dan ini sudah bagus. Quality time kita sarankan datang antara pukul 09.00 hingga 14.00. Ini bagi pengunjung yang benar-benar menikmati karya,” kata Pemad.
Untuk menikmati pasar seni rupa ini setiap pengunjung membayar Rp 10 ribu. Meski begitu, panitia Art Jog mengeluarkan beberapa kebijakan khusus seperti VIP card. Sejumlah 2.500 kartu dibagikan kepada seniman, kolektor, dan pemerhati seni di Indonesia.Bahkan, pengunjung yang merupakan rombongan sekolah tidak dipungut biaya secara khusus. Meski telah diberlakukan peraturan ini, beberapa pengelola sekolah tetap ngotot untuk membayar tiket masuk.Saat menemui wakil dari sekolah itu, Pemad menjelaskan bahwa sikap sekolah membayar tiket masuk itu sebagai wujud edukasi seni. “Kita sangat menghargai. Ternyata ada yang menerapkan pemikiran ini. Tentunya kita sangat mengapresiasi hal ini,” kata Pemad.
Melihat Art Jog, tentunya mesti melihat Pemad sebagai pendirinya. Sebagai pelukis, baginya Art Jog merupakan sebuah karya seni. Di mana, dia harus memiliki ide, merancang, mengarahkan, hingga mewujudkannya.Totalitas Pemad untuk terjun di Art Jog tidak perlu diragukan. Dunia seni lukis yang membesarkannya pun harus ditanggalkan. Alasannya agar dia dapat fokus menjalani tugas sebagai art management. Terjunnya Pemad dalam dunia manajemen seni berawal dari pengalamannya. Sebagai pelukis, dia memerlukan sebuah ruang pamer yang representatif. Berdasar pengalamannya, dia jarang menemukan tempat yang sesuai keinginan para seniman.
Akhirnya, dia mendatangi berbagai pameran. Itu mulai pameran level nasional hingga internasional. Tujuannya untuk melihat pengelolaan dan manajemen sebuah pameran. “Infrastruktur di Indonesia memang kurang bagus. Di mana pameran itu tidak dikemas dengan baik, tidak dipromosikan dengan baik, gedung tidak memadai, galeri tidak banyak, sementara senimannya banyak sekali. Ini upaya menambal apa yang dibutuhkan oleh para seniman,” kata Pemad.Menampilkan sebuah karya, menurutnya, tidak sembarang asal tempel. Jika tidak sesuai justru dapat membunuh karya seni itu sendiri. Ini tercermin dari penataan, tata cahaya, tempat hingga suasana sekitar karya. Representasi khusus diperlukan agar karya tetap kelihatan hidup.
“Aura dari sebuah karya jangan sampai redup bahkan mati. Tantangannya adalah memindahkan dari studio menuju ruang pamer. Ibaratnya ini membangunkan rumah untuk karya seni yang akan dipajang,” kata Pemad.Art Jog berawal dari penyelenggaran Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) pada 2007 dan 2008. Waktu itu ajang ini masih bernama Jogja Art Fair. Mimpi untuk membesarkan kegiatan ini, Pemad akhirnya memilih untuk jalan sendiri.Setelah tujuh tahun penyelenggaraan, Pemad dan timnya terus mengusung ide-ide baru. Perancangan ide-ide ini telah disiapkan tahun-tahun sebelumnya. Seperti Legacies of Power telah disiapkan sejak 2010. Bahkan, saat ini Pemad telah memiliki konsep penyelenggaraan Art Jog untuk dua tahun ke depan. “Terpenting dalam setiap penyelenggaraan ini adalah setiap seniman tidak hanya berjualan. Tapi bagaimana memindahkan secara intelektual ide dan gagasan menjadi karya. Mengajak pengunjung untuk ikut berpikir tidak hanya melihat. Inilah tugas utama dan berat dalam Art Jog,” kata Pemad. (*/amd)