SLEMAN – Peningkatan status Gunung Merapi dari normal ke waspada ternyata tidak mempengaruhi pelaksaaan ujian nasional (unas) yang berada di lereng Merapi. Setidaknya itu terjadi di SMPN 2 Cangkringan. Para siswa kelas 9 terlihat antusias mengikuti unas.
Mereka tidak khawatir atas kondisi gunung yang jaraknya hanya sekitar 7 kilo meter dari sekolah mereka di Dusun Pagerjurang, Kepuharjo, Cangkringan.”Anak-anak tidak ada rasa takut atas kondisi Gunung Merapi sekarang ini. Mereka sudah terbiasa hidup di kawasan rawan bencana,” kata Hadi Suparmo Kepala SMP Negeri 2 Cangkringan kemarin (5/5).
Menurut Hadi, jumlah siswa SMPN 2 Cangkringan yang mengikuti unas sebanyak 281 orang. Mereka merupakan warga Cangkringan dan sekitarnya. Sebelum mengikuti unas, sekolah telah menggelar berbagai kegiatan. Tujuannya agar pelaksaan unas di sekolahnya berjalan lancar, aman, dan tingkat kelulusan tinggi.
Kegiatan yang dimaksud ialah doa bersama dan melakukan pengecekan terhadap kondisi kesehatan para peserta unas.”Sekolah melakukan pengecekan terhadap kondisi psikologis siswa peserta unas. Hasilnya, tidak ada peserta unas yang mengalami trauma erupsi Merapi 2010 lalu,” tambah Hadi.
Unas di SMPN 1 Cangkringan juga berlangsung lancar. Di SMPN yang jaraknya 10 kilometer dari puncak Merapi itu unas berjalan seperti sekolah pada umumnya. “Tak ada beban. Semua lancer,” klaim Kepala SMPN 1 Cangkringan Sugiyanto kemarin (5/5). Di sekolah tersebut terdapat 134 siswa peserta unas. Sebagian besar berasal dari hunian tetap. Ada juga yang tinggal di kawasan rawan bencana di Srunen, Kalitengah Kidul, dan Kalitengah Lor.
Di SMPN 1 telah disiapkan empat ruang kosong untuk menampung 80 peserta unas dari SMPN 2. Itu sebagai antisipasi jika ada gejolak Merapi. Sebab, sekolah tersebut berjarak kurang dari 8 kilometer puncak Merapi.
“Ini solusi jika sewaktu-waktu status Merapi naik lagi,” ujar Sugiyanto yang jua ketua Pokja 14 Cangkringan.
Sementara itu, Bupati Sleman Sri Purnomo mengimbau para siswa tetap tenang dalam menjalankan unas. Sri juga mengingatkan warga lereng Merapi agar tak terpengaruh informasi tidak jelas sumbernya, tentang perkembangan Merapi. Warga diminta tetap mengikuti arahan pemerintah dan memantau Merapi berdasarkan keterangan BPPTKG Jogjakarta. Saat memantau unas, bupati menyempatkan diri dialog dengan para siswa, usai jam ujian. Dari dialog, bupati mendapat keluhan bahwa soal Bahasa Indonesia cukup sulit. Namun para siswa optimistis lulus. “Itu yang paling penting. Optimistis, tapi diimbangi dengan belajar giat dan tak lupa berdoa,” pesan Sri.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Arif Haryonomengatakan, unas diikuti 12.957 siswa. Terdiri atas siswa sekolah negeri 7.757 orang dan swasta 3.022 orang. Ditambah siswa MTs negeri 1.552 siswa dan swasta 653 siswa. “Juga ada siswa difabel 13 orang,” katanya.
Di sisi lain, Gunung Merapi masih harus diwaspadai. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta mencatat masih ada aktivitas kegempaan di dalam perut gunung tersebut. Berdasarkan pantauan peralatan BPPTK pada Senin (5/5) pukul 00.00 hingga 07.30 tercatat telah terjadi guguran sebanyak 7 kali, gempat teknonik 3 kali, dan LF 4 lain.”Merapi masih berdentum tapi dentuman atau suara gemuruh itu tidak keras seperti sebelumnya,” kata Kepala BPPTKG Jogjakarta Subandriyo. (mar/yog/din/rv)