JOGJA – Pendidikan belum berperan optimal dalam membangun kualitas manusia Indonesia. Buktinya, sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan institusi pendidikan lebih banyak yang memburu pekerjaan ketimbang menciptakan lapangan pekerjaan.
Kritik tersebut disampaikan Gubernur DI Jogjakarta Hamengku Buwono X (BH X) dalam Kongres Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan II mengangkat tema Memperkokoh Format Pendidikan Nasional yang Berkepribadian dan Berlandaskan Pancasila di Era Global yang digelar di UGM, Senin (5/5). “Kenyataannya pendidikan menjadi pemicu timbulnya pengangguran,” kata HB X.
Hal yang menjadi dasar tidak optimalnya pendidikan di Indonesia disebabkan beberapa faktor. HB X menilai, sejak era Orde Baru, pembangunan politik hanya dititikberatkan pada politik, ekonomi dan keamanan. Sementara pembangunan pendidikan terselip dalam rencana pembangunan tersebut.
“Akibatnya, ketika itu pembangunan manusia kita sangat rendah,” kata HB X.Maka, HB X meminta pemerintah untuk menjadikan pendidikan bagian utama dalam rencana pembangunan bangsa. Kemajuan pendidikan, membutuhkan misi mendasar agar manusia cerdas. Untuk pencapaian misi, diperlukan visi pendidikan nasional.Kecerdasan yang dibangun, kata HB X, harus memikirkan berbagai aspek kemanusian seperti kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual atau nalar.
Menurut HB X, kecerdasan spiritual dan emosional merupakan olahrasa untuk meningkatkan sensitivitas. Kecerdasan ini dapat mengendalikan kecerdasan intelektual. Bila kecerdasan ini dikendalikan dengan baik, maka perilaku akan sesuai dengan nilai-nilai kemanusian. Sedangkan cerdas intelektual, menurut HB X, merupakan olahnalar untuk bertindak kritis, imajinatif dan bertindak cepat. Perlu praktik untuk membuktikan bahwa daya nalar seseorang bisa terlihat dan bermanfaat bagi orang lain.
“Bila aspek-aspek kecerdasan dimiliki manusia, maka orang tersebut memandang pendidikan bukan sebagai peningkatan derajat hidup saja, tetapi juga pembentuk manusia Indonesia seutuhnya,” katanya.
Mantan Menteri Kesejahteraan Rakyat Haryono Suyono mengatakan untuk membangun kemandirian bangsa dan masyarakat, tidak bisa melupakan pandangan dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam pandangan Ki Hadjar Dewantara bahwa perjuangan dalam pendidikan dapat diperoleh kemerdekaan total baik fisik, pikiran, dan batin. “Pendidikan yang diberikan harus memberi pembekalan yang luas dalam kecakapan hidup sehingga rakyat dapat bekerja,” jelasnya.
Situasi yang memprihatinkan saat ini, kata Haryono, budaya kebersamaan dan gotong royong sedang mengalami degradasi. Maka perlu upaya menyegarkan budaya gotong royong tersebut melalui pendidikan dan pengajaran yang menyatu dengan masyarakat.
Sementara itu, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengatakan bangsa Indonesia tidak boleh berlama-lama di tingkungan jalan yang serba tidak pasti. Karena dalam perkembangan sejarah belakangan ini telah muncul semacam ancaman dalam format nasionalisme etnis lokal bercampur agama yang dapat menjurus kepada suasana perpecahan. “Pembelajaran tentang kebhinnekaan perlu diintegrasikan dalam sistem pendidikan untuk mengembangkan budaya toleransi yang sejati,” jelasnya. (bhn/iwa/rg)