JOGJA – Memasuki tahun kedua, penyelenggaraan Karawitan Orkestra oleh Taman Budaya Yogyakarta (TBY) semakin matang. Tahun kedua ini, gelar Karawitan Orkestra mengambil tajuk Sandhing Gendhing menghadirkan enam kelompok karawitan di Jogjakarta. Pentas ini akan digelar pada Jumat (9/5) nanti di Concert Hall TBY.
Kepala TBY Diah Tutuka Suryandaru mengungkapkan pementasan orkestra karawitan ini tak hanya sekadar bermain musik. Musik khususnya gamelan karawitan sangat bagus dalam pengembangan berbagai hal. Selain harmonisasi bunyi yang indah ada inspirasi kehidupan yang disebut dengan mulad. Artinya terdapat nilai kebersamaan, saling mendengar, melihat, mengerti dan memahami. “Sehingga melalui gamelan dapat menjawab kebutuhan kolektif komunitas untuk berinteraksi dan berekspresi,” kata Diah saat jumpa pers di ruang Seminar TBY, Senin (5/5) siang kemarin.
Menurutnya selain menjadi media ekspresi dan interaksi, gamelan karawitan juga merupakan simbol dari demokrasi yang kongkret. Dijabarkan dalam bermain gamelan, setiap pengrawit tidak bisa bertindak sendiri. Sehingga diperlukan kesatuan dan keselarasan untuk melahirkan harmonisasi nada.
“Setiap pengrawit mulai dari kendang, penggender, gong dan instrumen lainnya saling mengisi. Karawitan juga bisa menjadi perekat sosial, artinya wujud dari pengukuhan jati diri untuk melebur dalam komunitas social,” tuturnya.
Pada pentas Sandhing Gendhing sendiri akan menampilkan total 150 orang pengrawit dari Kabupaten Kota DIJ. Dibawah arahan Pardiman Djoyonegoro selaku direktur produksi, orchestra ini akan membawakan lima repertoar. Kelima repertoar ini merupakan karya komposer muda Jogjakarta yang menggeluti dunia gamelan karawitan.
Kelima composer ini adalah Roni A Wahyudi dengan karya berjudul Jawakarta, Mujiyanto dengan karya Jogja Kita Kota Budaya, dan Fajar Cothiet dengan karya Swara Gangsa. Adapula karya Suryanto bertajuk Bermain Gamelan dan karya Anon Suneka bertajuk Gendhingku.
Pardiman menambahkan setiap pementas akan on stage secara bersamaan. Sehingga Concert Hall akan dihiasi enam perangkat gamelan lengkap membujur di panggung. Sebagai penengah atau penyambung nada antar kelompok turut menghadirkan Sragam ABG Jogjakarta.
“Sehingga setiap kelompok yang tampil akan saling melihat aksi kelompok lain. Konsep ini wajib diusung karena selama ini gamelan hanya diusung sebagai perlombaan. Hasilnya yang muncul justru rivalitas bukan nyandhing,” katanya. (dwi/ila/ga)