PURWOREJO – Ujian Nasional (unas) SMP digelar serentak, kemarin (5/5). Sedikitnya ada 88 sekolah dan 11.165 peserta yang mengikuti unas tahun ini. Namun 20 sekolah terpaksa bergabung ke sekolah lain lantaran tidak memenuhi syarat menggelar unas.
“Soal sudah diterima Disdikbudpora Purworejo Sabtu (3/5) sekitar pukul 04.00 dan sudah berada di masing masing sekolah untuk dikerjakan peserta,” terang Drs Winanto Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Disdikbudpora Purworejo, kemarin.
Winanto mengatakan, soal yang diterima Rayon 13 Purworejo langsung didistribusikan ke subrayon yang ada di tujuh lokasi. Pihaknya tidak melakukan pengecekan isi amplop karena memang SOP-nya tidak boleh dibuka sebelum pelaksanaan unas.
“Jika ada soal yang kurang, pengawas sudah diberi penjelasan bisa meminta ke sekolah terdekat. Jika tidak ada, soal bisa difotokopi. Dan itu harus dicantumkan dalam berita acara,” katanya.Kepala Dikbudpora Purworejo Muh Wuryanto menjamin tidak ada kebocoran soal di Purworejo. “Soal disimpan di setiap subrayon dengan pengamanan ketat,” katanya.
Bahkan ada dua kunci yang dipasang di pintu gudang. “Satu dipegang kepala subrayon, kunci lainnya dipegang petugas kepolisian,” kata Wuryanto saat mendampingi Bupati Purworejo Mahsun Zain melakukan pemantauan soal, Minggu malam (4/5).
Pemasangan dua kunci dimaksudkan agar saat membuka pintu harus ada dua orang. “Polisi saja tidak bisa, karena masih ada kunci lain yang anak kuncinya dipegang kepala subrayon,” jelasnya.
Pelaksanaan unas SMP dibagi tujuh subrayon untuk 110 sekolah penyelenggara unas, baik negeri maupun swasta. Termasuk paket B yang diikuti sembilan peserta. Subrayon I di SMPN 1 Purworejo, Subrayon II di SMPN 2 Purworejo. Lainnya di SMPN 25, SMPN 8, SMPN 3, SMPN 10, dan SMPN 8.Wuryanto mengimbau peserta jangan terpengaruh kabar bocoran soal dan kunci jawaban. “Yang ada hanya soal-soal ujian, itupun setelah selesai langsung dikumpulkan, dan sesampainya di rayon akan langsung dikirim ke provinsi,” katanya.
Unas di SLBN Purworejo, dua pengawas berbagi tugas dalam satu ruangan. Satu orang mengisikan lembar jawab manual, sementara yang lain mengisikan di lembar jawab ujian nasional (LJUN) dengan menebalkan lingkaran.
Pengawas sebatas membantu penyandang tunadaksa untuk mengisikan jawaban yang dipilih. Keterbatasan fisik menjadikan anak tidak mampu memegang pensil untuk memberi tanda silang.
Kepala SLBN Purworejo Sugiyono mengatakan pendampingan harus dilakukan. Pengawas merupakan guru di SLB dari sekolah yang lain. (tom/iwa/rg)