BANTUL – Pelaksanaan ujian nasional (unas) SMP dan sederajat masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian siswa. Setidaknya, dari 10.824 peserta unas terdapat dua siswa yang ketakutan mengikuti unas. Kedua siswa tersebut adalah Febiyanti Savitri siswi SMPN 2 Sanden, dan Ridlo Ryasin siswa SMPN 2 Pajangan.
Febiyanti terpaksa mengerjakan soal-soal unas di RSUD Panembahan Senopati. Itu karena bocah asal Dusun Jragan II, Poncosari, Srandakan ini jatuh sakit sejak akhir bulan lalu. Febiyanti menderita gejala tipus karena fokus menghadapi pelaksanaan unas.
“Dia takut nggak lulus,” terang Lindawati, ibunda Febiyanti usai mendampingi anaknya mengerjakan soal-soal unas di RSUD Panembahan Senopati kemarin (5/5).
Lindawati menduga anaknya tersebut jatuh sakit karena stres. Sebab jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan unas, Febiyanti telah mempersiapkan diri menghadapi ujian kelulusan tersebut. Saking fokusnya, Febiyanti tidak memerhatikan kondisi kesehatannya. Sejak Rabu (30/4) lalu suhu badannya mencapai 39 derajat celcius.
“Dia belajar terus, dan jarang sekali istirahat karena setelah ini dia ingin sekali dapat melanjutkan di SMA N 1 Sanden,” ungkapnya.
Berbeda dengan Febiyanti, Ridlo Ryasin siswa SMPN 2 Pajangan malah memilih mengundurkan diri sebagai peserta unas SMP dan sedejarat pada tahun ini. Dia tak percaya diri karena nilainya saat tes pendalaman materi (TPM) tak memuaskan. “Mungkin dia takut,” tandas Kepala Sekolah SMPN 2 Pajangan Harjiman.
Menurutnya, pihak sekolah telah berupaya membujuk Ridlo dengan datang ke rumahnya. Hanya saja, Ridlo tetap enggan mengikuti unas. Karena itu, pihak sekolah kemudian berkonsultasi kepada Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas). Hasilnya, Bupati Bantul Sri Surya Widati dan Kepala Dikdas Totok Sudarto memberikan rekomendasi. Isinya, agar Ridlo diberikan pendampingan khusus.
“Siswa yang bersangkutan akan tetap kami bujuk untuk mengikuti ujian kejar paket B pada Oktober mendatang,” urainya.
Bupati Bantul Sri Surya Widati mengatakan pemkab memberikan dispensasi kepada peserta unas yang sedang sakit atau menemui kendala. “Kita berikan hak sepenuhnya untuk tetap mengikuti unas,” tegasnya.
Pada hari pertama pelaksanaan unas SMP dan sederajat ini, Ida sapaan akrabnya, menyempatkan diri memantau langsung di beberapa SMP. Antara lain, SMPN Sedayu, SMPN 2 Pajangan, dan SMPN 3 Pajangan. (zam/ila/ga)