Dua siswa SMAN 1 Jogjakarta Ahmad Aulia Justisiananto (Tito) dan Galih Pradipto Wisnujati mewakili Indonesia di ajang Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2014 di Los Angeles, Amerika Serikat. Sukses apa yang mereka lakukan?
Bahana, Jogja
Ruang tamu Gedung Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIJ siang itu tampak lengang. Koridor yang biasanya menjadi tempat lalu –lalang pegawai disdikpora pun tidak tampak terlihat. Di ruang tamu tersebut, Tito dan Galih rupanya sudah menunggu beberapa saat. Turut hadir pula pendamping mereka yang selama ini menjadi pembimbing di Klinik Sains Disdikpora DIJ, Zainal.
Sebagai bukti hasil karya mereka, dibawanya poster yang berisi rangakian rumus dan garis bidang dengan berbagai penjelasan. Poster inilah yang nantinya akan mereka presentasikan kepada juri selama mengikuti komptesi di Amerika dari tanggal 11-16 Mei mendatang.
Galih menjelaskan dirinya mewakili Indonesia di ajang Intel ISEF 2014 berdasarkan keputusan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Kami mewakili Kementerian Pendidikan dan yang lainnya dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Red),” jelas Galih.
Alasan Kemendikbud memilih timnya, didasarkan pada dasar yang kuat. Selain memenangi Olimpiade Penelitian Sains Indoensia (OPSI), karya mereka dinilai inovatif dibidang matematika.
Di ajang OPSI, mereka menjadi yang terbaik dengan memenangkan medali emas dan presentasi karya terbaik. Memenangkan ajang tersebut tidak lantas otomatis mereka melanggeng ke AS. Masih ada penyeleksian lagi yang melibatkan lima tim jawara diajang tersebut. “Setelah melalui seleksi, timnya dan tiga tim lainnya dinyatakan layak mewakili Indonesia,” katanya.
Galih menjelaskan rumus Quadric Tool adalah rumus turunan dari rumus kesebangunan. Rumus fungsi kuadrat tersebut memiliki sejumlah manfaat. Terutama dalam bidang arsitektur dan konstruksi bangunan.
“Ini semacam alat untuk membuat bangunan yang melengkung. Seperti membuat jembatan, rumus ini sebagai formula dasar supaya bangunan dapat dibuat secara langsung tanpa sepotong-sepotong,” jelasnya.
Galih menyatakan awal keterlibatan dan pembuatan rumus tersebut sebelumnya hanya iseng. Karena terpaksa harus mewakili Jogjakarta diajang OPSI 2013, mau tidak mau timnya harus memiliki karya yang bisa dikompetisikan. “Awalnya bingung mau neliti apa. Karena sukanya matematika, kami ingin membuat matematika yang aplikatif,” jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, ide untuk membuat sebuah fungsi kuadrat hinggap dalam pikiran mereka. Berdasarkan kajian mereka yang berkutat dengan rumus-rumus kuadrat, ternyata fungsi kuadrat yang dibuat secara manual selama ini dinilai sangat lama dan tidak akurat.
Setelah dikonsultasikan dengan pembimbingnya, dan disetujui, maka mulailah mereka berkutat untuk membuat sebuah rumus fungsi kuadrat lain yang lebih akurat. “Kira-kira butuh waktu lima bulan untuk selesai ke tahap laporan,” terangnya.
Tito menjelaskan, aplikasi rumus tersebut belum didaftarkan pada hak kekayaan intelektual. “Baru sebatas mengikuti lomba, nanti setelah dari AS kami akan urus,” katanya.
Dalam Intel ISEF 2014 nanti timnya masuk dalam kategori matematical science. Mereka akan bersaing dengan 1.600-an tim lain dari 70 negara untuk menjadi yang terbaik.
Sedangkan untuk persiapan berkompetisi sendiri sudah dilakukan sejak Desember 2013 lalu. Persiapan yang diutamakan tentunya kemampuan berbahasa Inggris. Untuk mempersiapkannya, mereka diwajibkan menggunakan bahasa Inggris dalam masa-masa karantina. “Kami benar-benar memasuki masa berdarah-darah karena selain mempersiapkan ke AS kami juga harus menghadapi ujian nasional (unas) SMA,” terangnya.
Selain itu persiapan lainnya adalah melakukan sejumlah perubahan terhadap bahan yang akan dipresentasikan. Perubahan dasar meliputi teori dan referensi dari nasional menjadi internasional sebagai syarat keikutsertaan kami. “Ternyata banyak istilah-istilah matematikan Indonesia yang sebenarnya tidak sesuai dengan istilah internasionak. Sehingga kami benar-benar menggunakan bahasa matematika internasional,” terangnya.
Saat disinggu apa target tim di AS nanti, Tito menjelaskan tidak ada target khusus, sebab selama ini, timnya belum mengetahui kekuatan pesaing-pesaing dari negara lain. “Memberikan yang terbaik untuk hasil yang terbaik,” tutupnya.(*/din/gp)