SLEMAN-Ancaman sanksi bagi PSS Sleman akibat kericuhan pada laga Derby d’ Jogjakarta menghadapi PSIM Jogja sepertinya benar adanya. Ya, kubu PSS mendengar informasi jika Komisi Disiplin (Komdis) PSSI sudah siap memberikan hukuman berlapis pada Super Elang Jawa (Super Elja)- julukan PSS Sleman.
Ya, meskipun ramai penonton, panpel PSS tak dapat dikatakan 100 persen sukses menggelar pertandingan di Maguwoharjo International Stadium (MIS). Selain tawuran antara suporter PSS v PSIM di tribun penonton, panpel juga gagal menanggulangi masuknya smoke bomb.
Manajer PSS Sukoco mengatakan, karena PSS sudah dihukum denda Rp 25 juta karena penyalaan red flare pada pertandingan lawan Persenga Nganjuk, kemungkinan besar sanksi bagi Super Elja lebih berat. Denda yang harus dibayarkan kemungkinan sebesar Rp 50 juta.
Itu belum ditambah sanksi tanpa penonton di laga kandang berikut lawan PSBK Blitar. “Sanksi tanpa penonton inilah yang paling kami khawatirkan. Ya, ini memang sudah menjadi salah satu poin ancaman yang tertuang dalam amar putusan Komdis 21 April lalu,” jelasnya.
Yang jelas jika menjalani laga tanpa penonton, PSS akan mengalami rugi besar. Sebab, selama ini pemasukan tiket pertandingan kandang adalah tulang punggung finansial klub kebanggaan Slemania dan Brigatta Curva Sud (BCS) ini.
Sukoco menaksir potensi pemasukan yang hilang bisa berkisar Rp 300 sampai Rp 400 juta. Ya, ini memang sudah menjadi angka rata-rata pemasukan PSS saat menggelar laga kandang di MIS. “Kalau potensi yang hilang sampai Rp 500 juta sepertinya tidak, sebab lawannya kan tak punya sejarah rivalitas. Tapi meskipun begitu kehilangan Rp 300 sampai Rp 400 juta tetap terasa sesak. Karena jumah itu cukup banyak untuk menghidupi tim ini,” sergah Koco.
Terkait dendan red flare melawan Persengan Koco mengaku PSS belum membayarnya. Sebab sampai saat ini PSS masih berharap pembayaran denda dapat diambil dari subsidi PT Liga Indonesia (PT LI). Sejauh ini, subsidi sebesar Rp 100 juta ini belum sepeser pun keluar.
“Ya, sampai sekarang PS juga belum membayarkan denda kepada PSSI. Kami masih menunggu kepastian apakah pemotongan subsidi bisa dilakukan,” ucapnya.
Di bagian lain, Sartono Anwar terus mengasah kemampuan finishing para penyerang dari Super Elja. Ia berharap di laga menghadapi PSBI, lini depan yang digalang Monieaga Bagus Suwardi dkk dapat lebih tajam di depan gawang,” jelasnya. (nes/din/ga)