Paguyuban wayang orang pimpinan Yati Pesek ini kembali menggelar pementasan wayang orang. Ada yang istimewa dalam pergelaran ini.
DWI AGUS, Sleman
Bertajuk Ronggeng Lalijiwa, pentas kali ini secara khusus diadakan di auditorium RRI Jalan Affandi, Sabtu (3/5). Beberapa tokoh seperti Ki Mantep Sudarsono, Marwoto Kawer, Tedjo Badhut, dan mantan Dirut BRI Bambang Supeno, turut tampil dalam pentas kali ini.
Yati Pesek mengungkapkan, pementasan ini merupakan wujud dari pelestarian kesenian wayang. Setelah wayang ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO, pementasannya semakin rutin. Menurutnya wayang orang merupakan tontonan sekaligus tuntunan dan tatanan.”Sehingga selain menjadi media hiburan juga bermuatan pendidikan dan pengembangan watak karakter manusia. Kami pun selalu konsisten mempertahankan untuk tampil dengan format wayang orang tradisional,” kata Yati Pesek.
Sementara itu sutradara pementasan, Pardiman mengungkapkan pementasan kali ini istimewa. Ini karena beberapa tokoh wayang kumpul menjadi satu. Selain itu kisah pementasan ini juga mengangkat lakon Ronggeng Lalijiwa.
Pardiman menceritakan lakon ini bercerita tentang Prabu Dewasrani dari Kerajaan Nuswarukmi yang ingin mempersunting Dewi Nawangwulan. Sebagai syarat, Prabu Dewasrani harus menyediakan mahar berupa perhiasan kepala “cunduk” Jimat Kalimosodo. Pusaka sakti ini hanya dimiliki oleh keluarga Pandawa.
Untuk mempermudah misinya mencuri pusaka, Dewasrani menyamar sebagai Prabu Kresna. Setelah itu Dewasrani meminjam Jimat Kalimosodo, kepada Dewi Drupadi. Untuk mendapatkan kembali Jimat Kalimosodo Prabu Kresna yang asli merekayasa Raden Arjuna menjadi Ronggeng Lalijiwa. “Dalam penyamarannya sampailah Ronggeng Lalijiwa ke Kerajaan Nuswarukmi, dan mendapat kesempatan untuk menghibur punggawa kerajaan. Selain itu juga menghibur Dewi Nawangwulan yang ada di taman. Penyamaran ini pun sukses membawa kembali Jimat Kalimosodo bahkan memboyong Dewi Nawangwulan,” kata Pardiman.
Pementasan yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini juga menampilkan sejumlah seniman muda. Selain tokoh lawas, adapula seniman tari dan wayang orang dari sejumlah institusi pendidikan seni di Jogjakarta. Bahkan profesi nonseni seperti dokter, arsitek, rogrammer komputer, karyawan hingga pengusaha turut tampil.
“Saat ini kesadaran untuk melestarikan kesenian tradisional mulai meningkat. Bahkan tugas ini tidak hanya menjadi tugas pokok para seniman, orang-orang non seni pun dengan penuh kesadaran turut menyengkuyung pelestarian ini,” kata Pardiman. (*/din/rv)