Akademi Bidan Yogyakarta (Akbiyo) punya cara sendiri dalam memeringati Hari Bidan Internasional pada 5 Mei. Mereka menyelenggarakan pentas seni.
Dwi Agus, Jogja
Suasana pelataran Monumen Serangan Oemoem 1 Maret Jogja malam itu (3/5) tampak semarak. Di atas panggung pertunjukan ditampilkan beberapa kesenian.
“Semua yang tampil adalah calon bidan,” jelas Direktur Akbiyo Drs H Henri Soekirdi MKes.Dia menyatakan, setiap bidan wajib memiliki ilmu selain kesehatan. Tujuannya agar bidan yang mengabdi ke masyarakat memiliki wawasan luas. Kesenian menjadi pilihan. Sebab, masyarakat memiliki minat dalam bidang kesenian.
“Melalui kesenian ini pula para bidan nantinya bisa melakukan pendekatan ke masyarakat. Tujuannya untuk mempermudah dalam pengabdian dan sosialiasi program. Contoh, untuk edukasi kesehatan reproduksi bisa dikemas secara menarik melalui teater ataupun tarian,” kata Henri.
Henri mengakui, dengan jalan kesenian maka pendekatan kepada masyarakat akan lebih efektif. Ini karena pola pikir bidan yang oleh sebagian kalangan dianggap “kaku” akan lebih terlihat luwes. Selain itu dengan cara penyampaian seperti ini maka tiap bidan akan lebih memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat.
Beberapa kesenian ditampilkan oleh para calon bidan dengan apik. Pertunjukan teater menampilkan kisah berjudul Untung Ada Bidan Sri. Kisah ini menceritakan tentang perjuangan para bidan di pedesaan. Di mana, masyarakatnya lebih percaya kepada dukun bayi. Ada pula paduan suara dari Suara Arimbi dari Akbiyo.
Penampilan semakin lengkap dengan pentas tari yang menggambarkan perjuangan dan kiprah para bidan. Untuk kali ini para calon bidan Akbiyo menampilkan dua tarian sekaligus. Judulnya adalah Midwife Our Family’s Angel dan Beauty from The World Wide.
Kedua tarian ini merupakan karya koreografer cantik, Mila Rosinta Totoatmojo. Mila menceritakan, tarian Midwife Our Family’s Angel bercerita tentang peran bidan dalam mendukung keluarga yang bahagia. Keluarga ini lahir berkat bidan melalui jalan persalinan yang sehat. “Sedangkan Beauty from The World Wide berkisah bahwa kecantikan bukan hanya pada persamaan. Namun, namun dapat dilihat juga dari perbedaan. Perbedaan budaya, warna kulit, bahasa, keyakinan, memiliki kecantikan masing-masing dari tiap penjuru negara,” kata Mila
Dalam tarian kedua ini, setiap penari menampilkan kostum dari berbagai negara yang memiliki ciri khas kuat. Dalam tarian ini menampilkan kesatuan yang terjalin indah dari perbedaan-perbedaan ini. Para calon bidan ini terlihat terampil dalam menggerakan badan mereka.
Henri menambahkan, pentas kesenian ini juga sebagai wujud dari kepedulian bidan dalam pelestarian seni dan budaya. Sebagai tombak terdepan kesehatan, bidan memiliki akses yang dekat kepada masyarakat.Tujuannya, kata dia, agar masyarakat juga lebih mengenal dan mengetahui fungsi seorang bidan. Selain itu acara ini juga bertujuan menyongsong hari lahir Ikatan Bidan Indonesia pada 24 Mei mendatang.
“Pastinya para bidan siap mengawal agar Indonesia lebih sehat, khususnya bagi balita, anak dan ibu rumahtangga,” kata Henri. (*/amd/gp)