PURWOREJO – Mengambil momen hari buruh sedunia, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Purworejo menyoroti rendahnya gaji buruh toko di Purworejo yang dinilai mendapat upah sangat rendah (2/5). Mereka menggelar aksi menyusuri pusat pertokoan di Purworejo.
“Kami menuntut gaji buruh toko minimal sesuai dengan Upah Minimun Kabupaten (UMK) Purworejo yakni Rp 910.000,” tegas Ahmad Mukti Ali, Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi.
Ali menjelaskan, aksi dimulai dari perempatan Mickey Mouse lalu bergerak menyusuri pertokoan sepanjang jalan A. Yani, Plaza dan Jalan A. Dahlan sembari memberikan surat tuntutan kepada pemilik toko.
“Aksi kali ini merupakan bentuk dukungan moral kepada para buruh khususnya buruh toko yang gajinya masih sangat jauh di bawah UMK yang ditetapkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Kami tahu UMK Purworejo sudah jauh lebih rendah dibanding kabupaten lain. Ironisnya, mayoritas pengusaha tidak memberikan gaji sesuai UMK yang telah ditetapkan itu,” jelasnya.
Menurut Ali, sebelum aksi, PMII telah melakukan survei ke sejumlah toko untuk mengetahui besaran gaji yang diterima buruh toko per bulan. Dari pengakuan sejumlah karyawan toko, diketahui tidak ada toko di Purworejo yang memberikan gaji sesuai dengan UMK.
“Dari pengakuan para buruh toko itu, rata-rata mereka digaji Rp 500 hingga Rp 600 ribu per bulan. Padahal mereka harus menanggung beban kerja selama 12 jam. Bahkan lebih parah lagi, ada pula buruh yang mengaku hanya dibayar Rp 250 ribu per bulan,” ujarnya.
Ali mengungkapkan, kenyataan itu bukanlah permasalahan sederhana, sebab menyangkut hajat hidup masyarakat kecil. Hak-hak yang tidak diberikan oleh majikan harus dibela.
“Kami memaklumi jika mereka tidak berani menuntut kenaikan gaji karena pertaruhannya adalah pekerjaan. Tidak sedikit dari mereka rela dibayar dengan gaji sangat minim daripada tidak memiliki pekerjaan,” ungkapnya.
Banyak toko di Purworejo memasang tulisan menerima karyawan di pintu toko. Setelah ditelusuri ternyata toko-toko itu memberlakukan sistem masa training bagi karyawan baru. Setelah masa training habis dan saatnya karyawan itu menerima kenaikan gaji tiba-tiba dipecat dengan alasan tidak jelas.
“Itu parah lagi, terus terang kami kasihan dan bersimpati dengan nasib mereka yang diperlakukan dengan semena-mena oleh para majikan. Kami berharap, dengan aksi ini nasib para karyawan toko bisa diperjuangan dan mendapat haknya yang layak,” tandasnya. (tom/iwa/rv)