Yatin Haryanti, 41, warga Kedungagung, Butuh, Purworejo. Guru TK ini menginspirasi, bahkan menjadi simbol semangat dunia pendidikan. Keterbatasan fisiknya, tak menghalangi transfer ilmu kepada anak didiknya.
HENDRI UTOMO, Butuh
KETERBATASAN fisik Yatin ternyata justu ampuh memantik semangat hidup. Kendati geraknya terbatas di atas kursi roda, dia justru mampu memotivasi anak didiknya tetap semangat merengkuh masa depan.
Kesan tak gampang menyerah melekat pada Yatin. Dia terpilih menjadi nominator penghargaan perempuan berprestasi dari Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Purworejo pada Peringatan Hari Kartini 21 April 2014.
Bu Haryanti, sapaan akrabnya, merupakan guru di TKIT Ulul Albab Desa Kedungagung, Butuh yang memiliki keterbatasan fisik. Namun, sebagai pendidik tulen, dia tetap mengabdikan diri sebagai guru di tanah kelahirannya. Dia menjadi teladan bagi siswa dan guru di sekolah tempatnya bekerja.
Haryanti menuturkan, apa yang ia lakoni saat ini juga tidak terlepas dari perjuangan menyetarakan derajat difabel di tengah masyarakat. Semasa kecilnya, Haryanti divonis mengidap TBC tulang. Penyakit tersebut menggerogoti tulangnya hingga rapuh dan ringkih.
Hal itu pula yang menyebabkan kedua kakinya tak mampu berkembang normal. Sehingga ia harus menggunakan kursi roda. Namun kondisi itu tidak membuatnya minder. Ia tidak pernah menyesali keadaan hidup yang dijalaninya.
“Meski kondisinya seperti ini, tapi saya merasa seperti orang pada umumnya. Saya terima semuanya sebagai berkah yang telah diberikan Tuhan kepada saya. Saya selalu bahagia menghabisakan hari-hari bersama anak-anak di sekolah ini,” tuturnya (2/5).
Sebelum menjadi guru, ia juga menempuh jejang pendidikan dengan perjuangan yang tidak mudah, duduk di bangku SD, SMP dan SMA ditempuhnya di sekolah umum. Bukan di sekolah bagi orang berkebutuhan khusus.
“Awalnya, bahkan ibu saya yang tidak yakin, meragukan minat saya untuk sekolah umum. Beliau pernah bilang, apa kamu tidak malu dengan teman-temanmu? Kamu kan berbeda dengan anak yang lain,” ujarnya tanpa ada perasaan menyalahkan sikap ibunya.
Menurut Haryanti, pertanyaan yang keluar dari ibu kandungnya itu justru menjadi lecutan sehingga semangatnya semakin membara. Akhirnya ia tetap bersekolah kendati harus menggunakan kursi koda dan meja khusus yang dibawa sendiri dari rumah.
“Hal itu saya lakukan hingga lulus SMA. Saat itu saya memang harus duduk terpisah dengan siswa lain agar tidak jatuh. Karena jika sampai jatuh, berbahaya, karena tulang saya sangat ringkih dan rawan patah,” ucapnya.
Pada 2004, Haryanti mendaftar sebagai tenaga pendidik di TKIT Ulul Albab. Sejak saat itu, hari-harinya disibukkan dengan kegiatan mengajar mulai pukul 08.00-11.00. Pada sore harinya, ia masih menyibukkan diri dengan memberi les privat mata pelajaran sekaligus mengajar mengaji di rumahnya.
Cara pandang tentang pentingnya pendidikan kembali tertantang, seiring dengan diberlakukannya peraturan baru yakni persyaratan guru TK wajib menyelesaikan pendidikan S-1 memantik Haryanti masuk bangku kuliah. Ia memilih kuliah di IKIP PGRI Wates tahun 2007 dan lulus 2012.
Setiap Selasa, Rabu dan Kamis ia berangkat kuliah diantar saudaranya dengan motor. Perjalanan jauh bagi orang yang memiliki keterbatasan fisik seperti Haryanti, namun tetap dijalaninya. “Waktu kuliah, saya tidak kos tapi dilaju dari rumah. Untuk kursi roda, saya membawa sendiri dari rumah yang kemudian dititipkan di kampus,” terangnya.
Tanpa kenal lelah, Haryanti tetap tegar berjuang dan terus belajar. Merajut jejak perjuangan yang telah dilakoninya, ia ingin menuliskan semua kisahnya dalam buku biografi yang tengah ditulisnya.
Perjuangan tidak pernah ditinggal oleh hasil yang maksimal, Haryanti tidak lama lagi akan mendatap sertifikasi guru. “Saat ini saya sudah menyusun pemberkasan, toh sertifikasi merupakan harapan bagi semua guru, namun mencerdaskan anak bangsa tentu menjadi tugas yang paling utama,” harapnya.
Kisah Yatin Haryanti menjadi cermin pengingat, bahwa menjadi guru adalah perjuangan hati, perjuangan yang mengesahkan predikat guru sebagai pahlwan tanda jasa. Seandainya semua pemahaman guru itu dilontarkan dari titik kesadaran itu. (*/iwa)