MADIUN-Madiun Putra FC (MPFC) memang merupakan lawan tergolong baru untuk PSIM Jogja. Selama berkiprah di kompetisi profesional, PSIM baru bertemu dua kali dengan Blue Force-julukan MPFC. Seluruhnya terjadi pada Divisi Utama Liga Indonesia (LI) musim 2013.
Meskipun begitu, PSIM memiliki sejarah kurang mengenakkan dengan MPFC. Ya, MPFC adalah tim yang menggagalkan mimpi Laskar Mataram melaju ke babak 12 besar Divisi Utama LI musim lalu. Sedang dalam momen tepat untuk mengejar peringkat dua Wilayah V kala itu PSMP Mojokerto Putra, PSIM malah dipermak MPFC 1-4 saat bertandang ke Stadion Willis, Madiun.
Hasilnya PSIM tertahan di poin 17 dan dipastikan tidak bisa lagi mengejar perolehan poin PSMP.
Nah, sore ini, dalam lanjutan Divisi Utama 2014 Grup 5 Topas Pamungkas dkk berkesempatan membalaskan sakit hati PSIM. Kebetulan, pada putaran pertama ini, PSIM mendapat jatah bertandang ke Willis terlebih dahulu.
Pelatih PSIM Seto Nurdiyantara memang hanya menargetkan Topas cs membawa pulang satu poin dari Kota Brem. Namun, dia berharap kekalahan 1-4 di Willis musim lalu dapat dijadikan motivasi anak asuhnya melampaui target yang sudah ditetapkan.\
“Mencuri satu angka di Madiun tentunya bukan hal mudah. Tapi saya berharap anak-anak dapat melakukannya. Namun saya berharap anak-anak punya motivasi tinggi untuk dapat meraih kemenangan,” sergahnya.
Terlebih lagi, Laskar Mataram sedang berada dalam tren positif. Selasa lalu, secara mengejutkan mereka sukses menahan PSS Sleman 0-0 dalam laga bertajuk Derby d’ Jogjakarta di Maguwoharjo International Stadium (MIS), Sleman.
Tapi, kata Seto euforia hasil imbang dari PSS harus dibuang jauh-jauh oleh anak asuhnya. Apalagi MPFC punya keinginan mengemas kemenangan perdana di kandang sendiri.
“Saya berharap euforia hasil imbang kontra PSS harus ditinggalkan. Sebab itu akan membuat anak-anak jadi jemawa. Yang saya inginkan, para pemain kembali bermain disiplin di Madiun, seperti menghadapi PSS,” sergahnya.
Selain unsur sakit hati, konstelasi di klasemen Grup 5 saat ini juga menjadi alasan mengapa PSIM tidak boleh menderita kekalahan. Ya, jika kalah, otomatis PSIM terjerembab di posisi ketujuh Grup 5. Peringkat tersebut sudah masuk dalam zona degradasi ke Piala Nusantara. “Nah jika menang, kami memiliki potensi menjadi pemimpin klasemen Grup 5,” sergah top skor sementara PSIM Tri Handoko.
Di pihak MPFC, pelatih Wahyudi menyatakan klub besutannya tak boleh terpelest lagi. Sekalipun saat ini PSIM bermaterikan banyak pemain muda, MPFC pantang menganggap remeh. Apalagi, kata Wahyudi PSIM sukses menahan PSS yang notabene bisa mencuri satu angka dari Madiun.
“PSIM bisa menahan PSS di Sleman. Itu bukti kalau mereka bukanlah tim yang dapat dipandang sebelah mata,” tegasnya.
Celaka bagi MPFC sebab bek andalan mereka Anderson da Silva diragukan tampil. Kata Wahyudi sampai kemarin Anderson masih mengalami cedera. (nes/din)