SLEMAN- Aktivitas Gunung Merapi masih perlu diwaspadai. Kewaspadaan itu penting karena intensitas semburan gas dari dalam perut gunung diduga masih cukup tinggi.
Dari pantuan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta tercatat, kemarin (1/5) terjadi gempa tektonik sebanyak dua kali. Gempa itu merupakan hasil pantauan dari pukul 00.00 hingga 07.00. Sedangkan aktivitas gempa low frekuensi (LF) terpantau normal.”Untuk kegempaan tergolong sepi tapi gempa LF dan LHF masih cukup tinggi. Indikasinya, aliran fluida gas masih tinggi,” kata Kepala BPPTKG Jogjakarta Subandrio kemarin (1/5).
Menurut Subandrio, aktivitas kegempaan yang paling mencolok terjadi pada Rabu (30/4) lalu. Tercatat, gempa tektonik terjadi sampai delapan kali, guguran dua kali, dan gempa LF sebanyak 38 kali. Sebelumnya, pada Selasa (29/4), gempa tektonik sebanyak tiga kali, guguran delapan kali, aktivitas gempa LF sebanyak 52 kali, LHF dua kali, tele satu kali.
Aktivitas guguran juga pernah terjadi pada Senin (28/4). Hanya, kala itu guguran terpantau satu kali, gempa tektonik tujuh kali, dan aktivits gempa LF sebanyak 4 kali. Guguran juga pernah terjadi pada Minggu (27/4). Pada Minggu, guguran terpantau terjadi hingga tujuh kali, gempa multi phase (MP) sebanyak tiga kali, dan tektonik satu kali.
“Tadi malam dari pos pemantauan aktivitas Gunung Merapi normal. Ini berbeda dengan hari sebelumnya pada Selasa malam lalu yang terdengar suara gemuruh hingga berulang kali,” tambah Subandrio.

Meski aktivitas Gunung Merapi menunjukan penurunan dibandingkan pada Rabu (30/4) lalu, BPPTKG masih menetapkan status gunung teraktif di tanah air itu ke level waspada. Alasannya, alat pemantau Gunung Merarapi seismograf system radio telementri (RTS) menujukkan Gunung Merapi masih menujukkan aktivitas kegempaan dan semburan gas.”Statusnya masih waspada. Kita berdoa saja semoga aktivitas Gunung Merapi segera turun,” terang Subandrio. (mar/din)