MUNGKID – Sidang lanjutan atas kasus penusukan yang menewaskan Gustian Sigit Prasetyo, warga Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan kembali berakhir ricuh. Keluarga korban yang datang bersama kerabat dan teman korban tidak terima atas nota pembelaan yang dibacakan kuasa hukum salah satu terdakwa.
Puluhan orang mencoba mengejar Titik Ariyani, Kuasa Hukum Subtitusi Terdakwa, Muh Hari Arbani di Gedung PN Mungkid. Bahkan, massa ingin menerobos ruang transit Titik Ariyani di ruangan yang dijaga petugas Polres Magelang. Karena dilarang, massa mengeluarkan kata-kata kasar. Mereka juga memaki-maki pihak kepolisian dan kuasa hukum.
Peristiwa bermula saat Titik Ariyani membacakan nota pembelaan terhadap terdakwa Muh Hari Arbani. Semula, pembacaan nota pembelaan berlangsung tenang. Namun, massa yang memenuhi ruangan sidang dan sebagian di luar ruang sidang mendadak emosi. Mereka berteriak dan mencoba menemui Titik Ariyani.
Kuasa hukum subtitusi terdakwa yaitu Titik menyebut adanya temuan serbuk kristal sebagai barang bukti, selain sepeda motor dan kursi kayu.
Mereka tak terima dengan pernyataan adanya dugaan korban sempat membawa serbuk kristal yang terjemahkan sebagai zat narkotika. Namun, massa dihalau ratusan polisi yang mengamankan ruang sidang. Adu fisik nyaris terjadi antara massa dengan petugas kepolisian.
Wiyantoro, ayah korban mengaku, emosi dengan pernyataan salah satu kuasa hukum terdakwa yang menyebut adanya temuan serbuk kristal. Ia mengaku terluka dengan pernyataan kuasa hukum tersebut.
“Sumpah demi Allah, anak saya bukan seorang pemakai sabu. Saya sangat terluka, anak saya korban dan masih difitnah,” katanya, kemarin (1/5).
Ia mengaku semakin emosi dan kecewa dengan tuntutan pada tiga terdakwa yang mengakibatkan anaknya meninggal. Win, sapaan Wiyantoro merasa diperlakukan tidak adil oleh aparat penegak hukum dengan tuntutan yang terlalu ringan.
“Setidaknya hukuman yang pantas bagi terdakwa adalah hukuman mati atau seumur hidup. Bukan seperti ini. Delapan atau sembilan tahun penjara, sangat melukai hati kami yang kehilangan nyawa seorang anak,” ungkapnya.
Kericuhan semakin memanas saat sidang ketiga dengan agenda pembacaan nota pembelaan kuasa hukum terdakwa utama, Arif alias Penyu. Massa yang emosi hendak mengejar Arif saat dibawa keluar ruang sidang. Mereka bersitegang kembali dengan aparat kepolisian yang bersenjata.
Lagi-lagi, ketegangan bisa dikondisikan. Massa ditenangkan beberapa kerabat korban yang lain.
Terpisah, Kuasa Hukum Subtitusi terdakwa Muh Hari Albani, Titik Ariyani menjelaskan, dirinya kaget saat membaca adanya tulisan serbuk kristal dalam pledoi yang dibacakannya. Ia mengatakan, adanya kesalahan pengetikan dalam penyebutan itu.
“Tulisan adanya serbuk kristal itu hanya salah ketik. Kami sudah merevisi atau membetulkannya,” akunya.
Polres Magelang menerjukan 300 personel guna mengamankan sidang. Jumlah sebanyak itu agar bisa mengantisipasi adanya kericuhan.
“Kami mengerahkan 300 personel, agar jalannya sidang tidak terganggu. Kami harap bisa berjalan kondusif,” tegas Wakil Kepala Polres Magelang, Kompol Yuyun Arif.
Sebelumnya, peristiwa penusukan yang merenggut nyawa Gustian Sigit Prasetyo terjadi di arena pentas musik pada perayaan 17 Agustus dan halal bihalal di Ponalan, 24 Agustus 2013. Korban dan terdakwa Arif alias Penyu terlibat aksi perkelahian hingga mengakibatkan penusukan. Selain itu, sempat terjadi aksi pemukulan pada korban oleh beberapa terdakwa lain.(ady/hes)