MUNGKID – Jembatan Sungai Kepil, penghubung Desa Sewukan dan Desa Paten Kecamatan Dukun merupakan salah satu jalur evakuasi saat Merapi meletus. Setelah ambrol termakan usia pada Februari lalu, kini jembatan tersebut dibangun lagi dengan bambu. Secara swadaya, warga membangun struktur bangunan jembatan dan alas jembatan dari bambu.
Jembatan dengan panjang 30 meter dan lebar 2,5 meter ini merupakan jalur vital bagi ribuan orang. Mereka tinggal di Dusun Paten, Dusun Gondang, Dusun Jombong, Dusun Bandung, Babadan 1, Babadan 2, dan Dusun Sewukan Tegal yang setiap hari melintasi jembatan tersebut.
Kepala Desa Paten Kecamatan Dukun, Sutarno mengatakan, jembatan dari bambu itu semestinya segera diganti. Sebagai jalur evakuasi, jembatan ini harusnya dibangun permanen.
“Kami berharap, jembatan ini segera diperbaiki secara permanen. Karena jembatan ini merupakan jembatan yang digunakan sebagai jalur evakuasi,” pinta Sutarno, kemarin (1/5).
Sutarno menjelaskan, desanya ada 1.005 kepala keluarga (KK) dengan jumlah jiwa sekitar 3.096 orang. Mereka tersebar di tujuh dusun.
Menurutnya, jika jembatan tersebut tidak segera diganti dengan jembatan permanen, kondisinya bisa membahayakan. Karena, Sungai Kepil sewaktu-waktu dilalui banjir.
Pemdes Paten sudah mengajukan bantuan ke Pemkab Magelang. Tetapi, belum mendapat jawaban.
“Kalau sampai teputus, kami harus memutar melalui Sabodam Kali Tringsing,” imbuhnya.
Pacapeningkatan status Merapi menjadi waspada, penduduk Desa Paten yang tinggal di 5 kilometer dari puncak Merapi belum ada rencana mengungsi. Mereka masih sabar dan menunggu informasi yang jelas dari pihak terkait. Apalagi belum ada perintah dan rencana mengungsi.
Sejauh ini, Pemdes sudah mempersiapkan diri seandainya terjadi erupsi dengan adanya program sister village atau desa bersaudara.
“Kalau ada apa-apa kami bisa mengungsi di Desa Gondang, Paremono di Kecamatan Mungkid,” katanya.
Terpisah, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Jogjkarata, Subandrio mengatakan, pascapeningkatan status Merapi, BPPTK tidak merekomendasikan pendakian di Gunung Merapi. Ini untuk mengantisipasi jika terjadi letusan.
“Resiko paling besar adalah lontaran batu kawah Merapi. Kadang juga batu pijar. Kalau dulu, paling jauh lontaran sekitar satu kilometer. Kalau lebih besar, jangkauannya lebih besar lagi,” kata Subandrio saat berkunjung ke Pos Babadan.
Ia berharap meningkatnya status tersebut tidak menjadi momok bagi masyarakat. Tapi, kenaikan status Merapi menambah kesiapsiagaan aparat menanggapi bencana.
“(Peningkatan status) lebih memberikan rasa aman di sekitar Merapi. Status waspada jangan menjadi takut, tapi lebih memberikan rasa tenang. Kareana aparat lebih siap bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.(ady/hes)