SLEMAN – Naiknya status Gunung Merapi ke level waspada tidak membuat masyarakat khawatir. Masyarakat yang tinggal di lereng merapi hingga jarak 12 kilometer masih melakukan aktivitis seperti biasa.
Suasana ini terlihat di Kecematan Cangkringan, Ngemplak, dan Ngaglik. Para petani masih melakukan aktivitas di sawah untuk bercocok tanam dan peternak mencari rumput.
“Sebelum ada peringatan bahaya, saya tetap akan bekerja di sawah karena penghasilan saya adanya di bercocok tanam,” kata Pekso, petani di Dusun Tanjungsari, Sukoharjo, Ngaglik kemarin.
Dinaikkannya status Merapi dari normal aktif menjadi waspada tak membuat warga penghuni kawasan rawan bencana (KRB) risau. Status itu juga tidak berpengauh pada kegiatan wisata di area lava tour yang berjarak tak lebih 3 kilometer dari puncak Merapi. Misalnya, di kawasan Kaliadem, Desa Kepuharjo, Cangkringan.
Jeep wisata pun tetap laris disewa turis domestik maupun mancanegara. “Kami justru penasaran ingin lihat dari dekat puncak Merapi saat ini,” ungkap Agung Samudro,41, asal Jakarta kemarin (1/5).
Bapak dua anak itu tahu jika pemerintah meminta warga dan pengunjung Merap waspada. Tapi, dia tidak khawatir lantaran kawasan lava tour cukup padat dengan wisatawan lain.
Kades Kepuharjo Heri Suprapto membenarkan bahwa area lava tour masih terbuka untuk umum. Baik Kaliadem maupun Bebeng. Aktivitas warga pun tidak ubahnya saat Merapi berstatus normal aktif. “Nggih pun kulino, masyarakat terbiasa dengan suara gemuruh,” katanya.
Sebelum ada instruksi dari pemerintah untuk menutup kawasan lava tour, area itu tetap beraktivitas seperti hari-hari biasa. Demikian pun kehidupan warga. Sebelum diperintah untuk mengungsi, mereka tetap bergeming di KRB. “Warga tak peduli dengan status Merapi. Soalnya, kebutuhan ekonomi mereka bergantung pada sektor wisata,” ujar Heri.
Kendati begitu, Heri menjamin warganya sesegera mungkin menungsi ke tempat aman bilamana pemerintah meningkatkan lagi status Merapi menjadi siaga. Itu menjadi konsekuensi bagi warga yang berdomisili di KRB maupun mereka yang menggantungkan hidup dari bertani dan menjual jasa wisata di kawasan tersebut. “Mau tak mau harus mengungsi,” lanjutnya.
Menurut Heri, erupsi 2010 cukup menjadi pengalaman pahit bagi warga. Sebab, sebagian terlambat mengungsi ke tempat aman, sehingga menjadi korban keganasan awan panas dan lahar. Saat itu, jeda status antara siaga ke awas tak kurang setengah hari setelah diumumkan oleh pemerintah.
Karena itu, Heri mengingatkan warga yang beraktivitas di KRB harus selalu siaga dan memantau perkembangan Merapi, baik melalui jaringan informasi maupun menelisik gejala-gejala alam yang biasa timbul sebelum gunung paling aktif di Indonesia itu erupsi.
Naiknya status gunung merapi ternyata tidak diimbangi dengan kesipan jalur evakuasi. Di sejumlah wilayah, jalur evakuasi mengalami rusak parah. Itu terjadi akibat seringnya dilalui truk penambang pasir. Jalan yang dulunya aspal kini sudah berubah menjadi batu pasir dan krikil.(yog/mar/din)