CANGKRINGAN-Warga Cangkringan mulai sibuk mempersiapkan kebutuhan mengungsi jika sewaktu-waktu Gunung Merapi aktif.
Tak hanya dokumen penting, ternak, dan kebutuhan pribadi yang disiapkan. Kemarin (1/5), warga gotong royong membersihkan barak pengungsian. Itu untuk memastikan sarana di barak layak. Seperti air, listrik, sarana mandi cuci kakus (MCK), sampai tikar untuk alas tidur. “Jadi, saat diminta mengungsi, kami tinggal masuk,” ungkap Naryo,38, warga Glagaharjo.
Warga juga menginventarisir kendaraan pribadi dan untuk mengangkut pengungsi. Selain mengisi bahan bakar full, tiap kendaraan diparkir mengarah ke pintu, bukan membelakangi. Agar saat akan dikendarai bisa lebih cepat.
Tak kalah penting adalah sarana komunikasi. Sebagian relawan memang memegang alat-alat modern berupa HT (handytalky) dan handphone yang on air 24 jam sehari.
Warga juga memanfaatkan alat komunikasi tradisional berupa kentongan bambu. Alat itu dinilai paling efektif saat kondisi darurat. Sekali dipukul, bisa didengar oleh warga satu padukuhan. Apalagi jika satu kentongan dibunyikan, warga lain pun akan menyahut dengan nada yang sama.
“Itu jadi solusi. Sebab, HT dan HP butuh sinyal dan baterai. Saat genting sinyal bisa hilang dan drop, makanya pakai kentongan,” ungkap Sugiyanto, salah seorang relawan Siaga Merapi.
Menurut Sugiyanto, warga telah menyepakati kode-kode bunyi kentongan berdasarkan jumlah dan teknik pemukulan kentongan.
Saat mendengar kode kentongan, lanjut Sugiyanto, warga sudah paham harus melakukan apa. Misalnya, siaga, waspada, segera mengungsi ke barak atau berkumpul di titik kumpul. “Jika memungkikan, kami juga infokan peringatan mengungsi melalui pengeras suara di masjid-masjid,” ungkapnya.(yog/din)