DARI berbagai jenis properti yang berkembang, kondotel atau kondominium hotel jadi salah satu primadona. Tidak hanya menjadi bagian gaya hidup, juga bisa menjadi investasi menarik.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Istidjab M Danunegoro mengatakan keuntungan investor dalam membuat kondotel bukan hanya saat kondotel itu sudah berdiri. Namun sebelumnya investor pun sudah diuntungkan.
“Ibaratnya, pengembang hanya butuh modal tanah dan gambar saja, dengan modal itu saja sudah bisa dipasarkan dan untung,” ujarnya, Kamis (1/5).
Dirinya mengatakan keuntungan dari kondotel tidak hanya bagi pengembang, namun juga mereka yang membeli unit-unit kondotel. Meskipun di tahun pertama dan kedua, pembeli tidak mendapat hasil. Namun setelah tahun ketiga, ketika kondotel itu sudah jadi pembeli bisa mendapatkan uang bagi hasil bersama pengembang dari uang sewa yang didapat.
Dirinya mengatakan peminat kondotel di Jogja didominasi oleh orang luar Jogja. Atau orang Jogja yang mereka bekerja di luar daerah namun memiliki ikatan dengan Jogja.
“Kebanyakan memang dari luar Jogja, mereka yang punya uang memang membeli kondotel sebagai investasi,” ujarnya.
Daya tarik kondotel bukan hanya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan akomodasi, tetapi bisa memiliki nilai lebih dengan dukungan fasilitas lainnya. Untuk itu, perlu diperhatikan beberapa hal penting. Mulai dari lokasi hingga fasilitas seperti kolam renang, fitness center, parkir, dan yang menarik yakni adanya shopping center.
“Karena kondotel juga bagian dari gaya hidup, dan untuk mendukungnya biasanya pengembang juga menghadirkan shopping center sehingga jadi satu kawasan terpadu,” ujar Istidjab.
Dirinya memprediksi, keuntungan bagi pemilik kondotel bisa mencapai 10 persen per tahun dari harga beli. Misalnya harga kondotel Rp 600 juta, setiap bulan si pemilik bisa mendapatkan bagi hasil sekitar Rp 5 hingga Rp 6 juta per bulan. “Ya setidaknya bagi hasil yang didapat bisa mencapai 10 persen setiap tahun,” ujar Istidjab. (dya/ila)