BANTUL – Pembekuan seluruh kelompok suporter Persiba membawa sejumlah dampak. Baik positif maupun negatif. Dampak negatifnya adalah menurunnya pendapatan panitia pelaksana (panpel) saat menggelar pertandingan Persiba menjamu Perseru Serui dalam lanjutan kompetisi Indonesia Super League (ISL) di stadion Sultan Agung (SSA). Bahkan panpel harus tombok.
“Kemarin tombok sekitar Rp 31 juta,” terang Ketua Panpel Persiba Kandiawan kemarin (1/5).
Merosotnya pendapatan panpel tersebut karena menurunnya jumlah penonton di SSA. Beberapa sudut tribun penonton kosong. Padahal biasanya tribun sebelah timur penuh dengan kelompok suporter Persiba. “Penurunannya (jumlah penonton) sampai 50 persen,” ujarnya.
Kandiawan mengaku pada pertandingan-pertandingan kandang biasanya panpel memang selalu tombok. Hanya saja, tomboknya panpel tak sebesar pasca-pembekuan seluruh kelompok suporter Persiba. Menurunnya jumlah penonton dan besarnya biaya operasional menjadi penyebabnya.
“Meskipun terseok-seok kita tetap jalan terus. Kita berharap pada putaran kedua nanti jumlah penontonnya jauh lebih banyak,” harapnya.
Menurutnya pendapatan panpel terbesar selama ini baru sekali. Yakni ketika menggelar pertandingan Persiba melawan Timnas U-19. Ketika itu panpel mendapatkan pemasukan hingga Rp 180 juta. “Kalau pertandingan-pertandingan reguler saya lupa jumlahnya,” ungkapnya.
Saat pertandingan melawan Perseru Serui, panpel bersikap tegas. Penonton yang menggunakan berbagai atribut kelompok suporter tidak diperbolehkan masuk. Itu demi menjaga komitmen pembekuan seluruh kelompok suporter. “Jersey home Persiba berwarna putih. Saat tandang menggunakan jersey warna merah,” tandasnya.
Senada diungkapkan Anom Suroto. Mantan lurah Paserbumi ini mengatakan panpel melucuti seluruh atribut yang digunakan penonton Persiba. Pelucutan dilakukan saat penonton hendak memasuki pintu masuk SSA. “Pertandingan kemarin berjalan aman. Tak ada atribut suporter lagi,” ungkapnya. (zam/ila)