JOGJA- Inspektorat Kota Jogja mulai melakukan pembinaan tentang gratifikasi kepada satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemkot Jogja. Pembinaan juga merambah hingga tingkat kecamtan dan kelurahan.
“Pembinaan merupakan bagian dari pengawasan terkait larangan menerima gratifikasi,” ungkap Inspektur Kota Jogja Wahyu Widayat kemarin (1/5).
Tim Pengendali Gratifikasi (TPG) dibentuk berdasarkan Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 82 Tahun 2013 tentang Pedoman Pengendalian Gratifikasi di Lingkungan Pemkot Jogja.
Keberadaan TPG diharapkan dapat menekan angka gratifikasi dan mendorong integritas pejabat pemkot sehingga tidak melakukan tindak pidana korupsi.
” TPG nantinya akan membantu KPK dalam pelaporan semua hal yang terkait dengan gratifikasi. Laporan secara kumulatif atau sebulan sekali,” paparnya.
Dengan adanya TPG pengawasan akan dilakukan secara intensif. Harapannya akan mendorong percepatan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, jujur, bebas korupsi dan transparan. Wahyu juga meningatkan sesuai UU No 31/1999 junto UU No 20/2001 tentang Pemberantasan Korupsi, ancaman pidana menyangkut gratifikasi minimal empat tahun dan maksimal 20 tahun. “Ancaman dendanya maksimal Rp 1 miliar,” urainya.
Gratifikasi tidak hanya dalam bentuk barang, tapi bisa berupa dana yang masuk ke ke rekening pribadi. Untuk penelusurannya harus melibatkan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Wahyu menambahkan, pelaporan gartifikasi kepada KPK paling lambat 30 hari. Namun, dengan adanya TPG teman-teman SKPD dan camat serta lurah bisa melaporkan melalui Inspektorat Kota Jogja tanpa harus melaporkannya kepada KPK.
“Pelayanan aduan dan penanganan gratifikasi bisa dikirimkan melalui email, surat, atau datang langsung ke kantor,” ucap mantan camat Umbulharjo ini.
Terpisah, Lurah Wirogunan Mergangsan Suprihastuti menyambut baik adanya TPG. Sebab ,pengawasan di tingkat wilayah paling bawah sangat diperlukan. Itu demi mendorong transparasi pelayanan publik kepada masyarakat.
“Apalagi kami pejabat di bawah masih awam tentang ciri-ciri gratifikasi, adanya TPG dapat memberikan pemahaman dan pembinaan sehingga pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan
jalurnya,” katanya.(hrp/ila).
me Per�i eH`�x��tih. Saat tandang menggunakan jersey warna merah,” tandasnya.
Senada diungkapkan Anom Suroto. Mantan lurah Paserbumi ini mengatakan panpel melucuti seluruh atribut yang digunakan penonton Persiba. Pelucutan dilakukan saat penonton hendak memasuki pintu masuk SSA. “Pertandingan kemarin berjalan aman. Tak ada atribut suporter lagi,” ungkapnya. (zam/ila)