JOGJA – Para buruh gendong yang tergabung dalam Paguyuban Sayuk Rukun DIJ memiliki cara tersendiri dalam menyuarakan aspirasi mereka. Paguyuban yang mewadahi ratusan buruh gendong ini menampilkan kesenian dalam aksi mereka yang digelar di depan Gedung Agung, Jogjakarta (1/5).
Ketua Paguyuban Sayuk Rukun DIJ, Rubiyah mengungkapkan aksi kesenian dipilih atas kesepakatan bersama. Menurutnya meski melalui seni, namun esensi tuntutan buruh tetap disampaikan. Tuntutan ini dikemas dalam pembacaan puisi oleh salah seorang perwakilan buruh gendong asal pasar Gamping, Endah.
“Seorang buruh gendong juga tetap memiliki jiwa seni, itulah mengapa kita memilih dengan cara ini. Selain itu dengan cara ini diharapkan juga bisa lebih memancing simpatik, pengunjung Malioboro,” kata Rubiyah.
Dalam kesempatan ini, setiap perwakilan pasar menampilkan kesenian masing-masing. Perwakilan pasar Giwangan menampilkan tarian dari Sumatera Barat, Badindin. Lalu dari pasar Gamping menyajikan pembacaan puisi berjudul Buruh. Puisi ini menyuarakan impian akan kesejahteraan buruh gendong.
Perwakilan dari pasar Beringharjo menampilkan kasidahan dengan membawakan lagu Perdamaian milik grup band GIGI dan Sholawat Badar. Koordinator buruh gendong Beringharjo, Suyatini berharap dengan aksi May Day ini kesejahteraan buruh gendong lebih diperhatikan.
“Untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari masing belum mencukupi. Dimana setiap angkatan upahnya masih sangat kecil sekali. Belum lagi masalah jaminan kesehatan yang harusnya menaungi kita para buruh gendong,” kata Suyatini.
Rubiyah menambahkan perhatian dinas terkait terhadap buruh gendong masih sangat minim. Harapan buruh gendong yang selalu disuarakan setiap tahunnya adalah upah minimum yang layak. Selain itu juga memperhatikan Kesehatan dan Keselamatan keerja (K3).
Dua hal ini menurut Rubiyah sudah menjadi tuntutan utama, namun belum terealisasi. Harapannya dengan adanya momentum May Day ini, kehidupan para buruh gendong juga lebih diperhatikan. Bahkan Paguyuban Sayuk Rukun juga berharap, para buruh gendong juga bisa mendapatkan BPJS.
“Jamkesmas sudah ada tapi tiap daerah masih berbeda, tapi selain dua tuntutan kita juga berharap BPJS bisa kita dapatkan. Kita juga berharap pemerintah ikut meakukan pendekatan kepada para juragan di pasar. Tarifnya masih minim berkisar Rp.2000- hingga Rp.3000- untuk berat antara 0kg hingga 90kg,” kata Rubiyah.
Sementara perawakilan Yayasan Annisa Swasti (Yasanti), Umi Asih mengungkapkan saat ini buruh gendong sudahy lebih terwadahi. Dengan adanya paguyuban Sayuk Rukun ini, para buruh gendong memiliki kebulatan suara. Anggotanya sendiri terdiri dari para buruh gendong dari pasar Beringharjo, pasar Gamping, pasar Kranggan, dan pasar Giwangan.
Umi mengungkapkan permasalahan yang menimpa para buruh gendong ini merupakan permasalahan yang epic. Dimana sebagai penjual jasa gendong, para buruh ini tidak memiliki sebuah atasan. Tentu saja hal ini berimbas ketika para buruh gendong ingin menyampaikan tuntuan.
“Memang masih jauh dibawah upah minimum regional, apalagi upahnya hanya berdasarkan kesekapatan. Selam dua tahun ini menyuarakan agar tarif minimum Rp.5000- tapi belum bisa terealisasi. Pasar sendiri tidak bisa karena buruh lingkupnya lepas, inginnya pemerintah daerah juga mengeluarkan peraturan batas minimum antara rentang berat dengan upahnya,” kata Umi Asih. (dwi)