Seperti halnya batik, kebaya telah menjadi bagian jati diri bangsa ini. Bahkan telah menjadi busana nasional. Bagaimana mengenalkannya untuk generasi muda?
Kebaya memiliki sejarah panjang. Sejarah itu hingga pada akhirnya perempuan-perempuan Indonesia sepakat untuk menjadikannya sebagai identitas. Kebaya tidak hanya busana penutup tubuh, tetapi juga mencerminkan kesahajaan dan tata krama budaya Timur. Dalam jejaring sosial ekonomi, kebaya juga mengangkat batik dan aksesoris yang artinya juga mengangkat para perajin. Kebaya hanya dimiliki Indonesia. Di beberapa daerah modelnya sangat khas dan beragam. “Tidak hanya dari bentuk kebayanya, tetapi tata rias mulai dari konde hingga selop,”ujar Ketua Persatuan Para Pemilik Salon Kecantikan dan Pengusaha Salon Tiara Kusuma DIJ KRAy Angling Kusumo, Senin (28/4).
Menurutnya, sebagai busana, kebaya dapat dikenali dalam dua sisi yang berbeda. Pertama kebaya sebagai busana adat, dan kedua kebaya sebagai busana nasional. Jika menilik kebaya sebagai busana adat, masing-masing gaya sudah berbeda, karena memiliki prinsip atau pakemnya sendiri-sendiri sesuai dengan tata nilai yang ada.
Sedangkan kebaya sebagai busana nasional, sudah ada kesepakatan dari seluruh provinsi. Mereka sepakat untuk menjadikan kebaya sebagai acuan busana nasional. “Kesepakatan itu tidak langsung jadi dalam sekejap. Karena ragam kebaya banyak, demikian juga tata busana dan tata riasnya yang beragam,”ujar wanita yang selalu tampil dengan kebaya ini.
Hingga pada akhirnya, dipilih kebaya Jawa dengan model Kutu Baru, yang aslinya dari Solo, sebagai acuan busana nasional. Untuk menunjang gerak wanita Indonesia yang dinamis, dipilih potongan kebaya pendek. Busana itu dilengkapi dengan selendang.
Perempuan dari Sabang hingga Merauke menggunakan selendang dalam segala transisi kehidupannya. Mulai dari untuk menggendong buah hati, hingga saat mencari rezeki. “Tapi dalam kebaya, selendang menjadi pemanis yang menggambarkan wanita Indonesia sebagai wanita yang mandiri,”ujarnya.
Untuk desainnya, kebaya harus menutupi kulit seutuhnya. Jika ada yang mengenakan brokat, tetap harus diberikan lapisan seperti puring. Sedangkan untuk bawahan, batik yang dikenakan bias motif apapun dari daerah manapun. Namun cirinya, tetap menggunakan wiron. “Di situ ada keindahan, apalagi ketika berjalan. Keindahan gaya busana yang khas. Di negara lain tidak ada,” paparnya.
Sedangkan untuk sanggul, yang dipilih sebagai acuan yakni konde Jawa model besar. Model ini sudah popular, sehingga wanita di mana pun dapat mengkreasikannya sendiri. Untuk mempermanis, dapat dipilih aksesoris apapun yang sesuai. Bisa aksesoris dari daerah masing-masing yang khas atau aksesoris etnik lainnya.
“Kalau sekarang banyak model kebaya dipadukan dengan bawahan apapun, sah-sah saja. Namun jangan sampai lupa dengan kebaya yang tradisi.Kebaya nasional yang sudah jadi identitas perempuan Indonesia,”ujarnya.
Untuk terus melestarikan dan mengenalkan kebaya khususnya kepada generasi muda, Tiara Kusuma bersama The Sahid Rich Jogja Hotel menggelar serangkaian acara untuk memperingati Hari Kartini. Selain seminar bertema, kebaya sebagai kepribadian wanita Indonesia. Acara ini akan digelar rutin setiap tahun dan diikuti pemilihan putri kebaya. Misinya untuk mengangkat kebaya tradisi. Tujuannyauntuk melestarikan dan mengenalkan kebaya kepada generasi muda agar tidak hilang. (*/din)
Gelar Pemilihan Putri Kebaya Setiap Tahun.