SLEMAN – Materi pemain bukan parameter hasil
pertandingan. Kredo ini terwujud pada laga bertajuk Derby d’
Jogjakarta antara PSS Sleman versus PSIM Jogja di Maguwoharjo International Stadium (MIS) kemarin (29/4).
Diprediksi kalah, Laskar Mataram ternyata mampu menahan imbang Super Elang Jawa (Super Elja) 0-0 yang tampil di kandang dalam lanjutan Divisi Utama 2014 Grup 5.
Hasil ini membuat PSS dan PSIM sementara menempati posisi
empat dan lima Grup 5. Kedua tim sama-sama mengoleksi lima poin.
PSIM berangkat ke Sleman dengan membawa sejumlah prahara internal. Itu mulai cedera yang menimpa beberapa pemain kunci sampai ancaman
mundur dari kompetisi akibat krisis finansial.
Tapi, saat berlaga di hadapan pendukung PSS, Laskar Mataram
terlihat ogah menelan kekalahan. Ya, Super Elja boleh saja lebih
menguasai permainan. Anang Hadi dkk sanggup melepaskan 17 percobaan tembakan ke gawang lawan. Dari jumlah itu, tujuh tembakan tepat sasaran. Kontras dengan PSIM. Mereka cuma membukukkan sembilan tembakan dengan satu tendangan tepat mengarah ke gawang.
Usai pertandiangan, pelatih PSIM Seto Nurdiyantara mengatakan, kunci keberhasilan timnya menahan PSS ialah motivasi yang berlipat. Kata Seto, Topas Pamungkas dkk ingin membuktikan kondisi finansial maupun perbedaan kualitas pemain bukan alasan PSIM tak mampu mengimbangi sang tetangga.
“Saya lihat anak-anak punya motivasi yang sangat membara dalam laga ini. Tentunya salut karena sekelumit prahara menimpa kami sebelum berangkat ke Sleman. Tapi ternyata mereka mampu mencuri satu angka di Sleman,” jelas pria yang musim lalu masih bermain sebagai gelandang Laskar Mataram ini.
Seto menambahkan, jika nantinya PSIM lanjut di Divisi Utama 2014, mentalitas seperti kemarin harus bisa diteruskan. Terlebih lagi pada 3 dan 6 Mei mendatang mereka bakal bertandang ke Stadion Willis Madiun. Mereka siap menghadapi Madiun Putra FC dan Perseman Manokwari.
“Harapannya jika tim ini lanjut di kompetisi Divisi Utama tentunya ya harus bisa meneruskan apa yang diperlihatkan di MIS. Secara mentalitas, ini adalah yang terbaik dari anak-anak,” jelasnya.
Terpisah, kapten PSIM Topas Pamungkas mengaku sangat puas dengan hasil yang diraih di Bumi Sembada. Bagi dia, ini adalah bukti pemain-pemainnya sama sekali tidak terpengaruh dengan isu mundurnya PSIM dari kompetisi.
Topas mengaku agak terkejut dengan raihan satu poin di
Sleman. Apalagi, banyak pihak memprediksi timnya tidak akan mampu menahan gempuran tim bertabur bintang seperti PSS.
“Tentunya ini bukti anak-anak sama sekali tak terpengaruh dengan
kondisi yang ada di PSIM saat ini. Untuk masalah finansial biar
manajemen yang bekerja. Kami tinggal bekerja di lapangan,” ungkapnya.
Di kubu PSS, pelatih Sartono Anwar mengaku mensyukuri hasil 0-0. Tapi, di satu sisi, dia juga menyatakan kecewa karena anak asuhnya tak mampu mengkonversi banyak peluang emas menjadi gol.
“Nah ini dia penyakit kami saat laga melawan Perseman berlanjut.
Banyak bikin peluang tapi tidak ada yang bisa dikonversi jadi gol.
Akhirnya ya begini, kami rugi karena seri di kandang sendiri,”
jelasnya.
Menurutnya, libur tanding selama beberapa pekan akan dimanfaatkan untuk memperbaiki penyelesaian akhir. “Kalau keadaan begini terus jelas tak bagus untuk tim,” terangnya. (nes/amd)