MENGACU pada tren fesyen satu tahun ke depan, Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) DIJ bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIJ menggelar Fashion Tendance 2015, Rabu (23/4) malam. Bertempat di The Kasultanan Ballroom Royal Ambarrukmo Jogjakarta, peragaan busana ini mengusung tema “Re+Habitat”.
Sebanyak 20 desainer APPMI DIJ mengeksplorasi batik-batik Jogjakarta ke dalam karya busana terkini yang cantik, elegan dan siap pakai (ready to wear). Ketua APPMI Pusat Taruna Kusmayadi mengatakan Fashion Tendance merupakan kegiatan tahunan yang digelar oleh masing-masing daerah yang mengacu pada tren fesyen satu tahun ke depan.
“Ini kesempatan sekaligus tantangan bagi para desainer untuk memperkenalkan tren terbaru dan memberi pengaruh bagi industri feyen,” ujar Taruna.
Menurut Ketua APPMI DIJ Lia Mustafa, Fashion Tendance 2015 tidak lagi mengacu pada busana glamour di panggung yang biasanya menyenangkan penonton. Tetapi berorientasi pada industri. Bagi para desainer, ini menjadi tantangan tersendiri sebab mereka harus mentransformasikan batik menjadi karya fesyen yang bisa dipakai. Bahkan bsa dijadikan acuan tren oleh masyarakat.
Pada Fashion Tendance 2015 ini, APPMI DIJ berkomitmen untuk mengangkat motif batik khas dari empat kabupaten dan satu kota di DIJ. Seperti motif batik Burotoya dari Bantul, motif batik Parijoto Salak dari Sleman, motif batik Gebleg Renteng dari Kulonprogo. Serta motif batik Walang Sinanding Jati dari Gunungkidul dan motif batik Soga dari Jogja.
“Batik dengan motif khasnya tersebut kita angkat dengan mengacu pada empat tema tren Indonesia 2015. Yakni kehidupan urban Jogja-Solo, reboisasi kembali Banjarmasin, hiruk pikuk Jakarta dan keindahan Raja Ampat Papua,” ujar Lia.
Pada gelaran kemarin 20 desainer dibagi menjadi 5 kelompok sesuai dengan daerah motif batik yang diangkat. Lia Mustafa, Amin Hendra Wijaya, Dani Paraswati dan Indraswari mengangkat batik Sleman. Sementara itu Alma Riva, Ratri Kristiani dan Dewi Syifa mengangkat batik Bantul. Sedangkan Sugeng Waskito, Ninik, Rosso dan Rida yang merupakan kakak dari almarhum desainer Manik Puspito, mengangkat batik Gunungkidul. Kelompok lain yakni Afif Syakur, Mia Ridwan dan Michael mengangkat batik Kulonprogo. Serta desainer Philip Iswardono, Dandy T Hidayat, Indrati Setiawan, Dewi Ranaya dan Isyanto mengangkat batik Jogja.
Membuka sesi, Dandy T Hidayat menampilkan siluet busana muslim dalam dinamisnya motif batik Jogja dengan motif geometris. Detail opnaisel, batu-batuan dan patchwork mencuri perhatian pada rancangan cocktail dan evening-nya kali ini.
Sementara itu, Philip Iswardono menampilkan koleksi ready to wear yang lebih urban berjudul Cross Culture. “Motif Teruntum yang saya angkat cenderung mengikuti pola tren global yang cenderung kearah geometrik, lebih mengarah ke global tetapi unsur lokalnya sangat kental,” ujar Philip.
Berbeda lagi dengan Mia Ridwan yang memadukan material batik dengan material rajut. Permainan warna pun begitu mencolok tidak hanya pada material namun juga motifnya. Salah satunya pada koleksi celana sarrouel dari bahan batik tulis Kulonprogo dengan motif Galaran Seling Lung-lungan warna hijau.
Sementara itu, busana-busana simpel masih jadi ciri koleksi Dewi Syifa. Untuk rancangan Fashion Tendance 2015, dirinya memadukan batik tulis Bantul dengan bahan lain seperti velvet, remekan tenun dan tafetta. Detail ruffles makin mempercantik koleksinya sehingga tampak chic, simpel, anggun dan elegan.
Sebelum Fashian Tendance 2015, acara ini juga dimeriahkan dengan penampilan busana-busana anak dengan mengangkat batik jumputan (tie dye) dan fashion show tunggal Amin Hendra Wijaya yang menampilkan 50 koleksi terbarunya. (dya/ila)