Warga Jogjakarta dan sekitarnya dikejutkan gempa yang terjadi pada Rabu petang (2/4). Gempa tersebut berpusat di Pedukuhan Karangsari, Desa Pengkol, Kecamatan Nglipar Gunungkidul. Warga setempat tak menyadari jika kampungnya menjadi episentrum pergerakan tanah tersebut.
ALAT komunikasi handie talkie (HT) yang dipegang salah seorang perangkat Desa Pengkol, Wartoyo dua jam setelah gempa berkekuatan 5,5 skala richter (SR) terus berbunyi. Pria yang juga sebagai anggota Tagana Gunungkidul tersebut kaget karena informasi yang dia dapat dari HT menginformasikan pusat gempa di wilayahnya sendiri.
“Pukul 20.00 ada informasi dari badan penanggulangan bencana daerah (BPBD). Terakhir pukul 22.00 ada lagi kabar bahwa pusat gempa di Pedukuhan Karangsari tidak jauh dari rumah saya,” kata Wartoyo kepada Radar Jogja di balai desa setempat kemarin (3/4).
Mendengar kabar tersebut, bersama warga lain dia melakukan pengecekan ke pusat gempat tersebut. Kata Wartoyo, berdasarkan informasi dari HT lokasi pusat gempa tak jauh dari SD Karangsari. “Alhamdulillah aman, tidak ada dampak serius akibat gempa,” kata Wartoyo.
Namun, ada beberapa rumah warga yang rusak ringan. Salah satunya rumah milik Sukito, 65, warga Kebonjero, sekitar satu kilometer sebelah timur pusat gempa. Tembok rumahnya retak-retak. “Saya memang belum melaporkan kerusakan ini kepada pihak terkait,” kata Sukito menunjukkan retakan di tembok rumahnya.
Situasi di Pedukuhan Karangsari justru normal, warga beraktivitas seperti biasa. Wilayah tersebut berada sekitar 14 kilometer utara Wonosari. Warga tidak mengetahui jika pusat gempa ada di tanah yang mereka tinggali.
“Pantas saja getarannya sangat kuat. Informasinya pusat gempa memang di Nglipar tapi saya tidak menyangka kalau di sini,” kata warga setempat, Milah, 50.
Beberapa saat setelah gempa, warga Kajar III, Karangtengah, Wonosari, Wasto Tukimin, 70, meninggal dunia. Sedangkan rumah Tuyem, 41, warga Grogol V, Bejiharjo, Karangmojo ambruk. Namun hingga kemarin belum bisa dikonfirmasi apakah kedua kejadian tersebut berkaitan dengan gempa bumi.
Sementara itu, adanya peringatan tsunami yang bakal menerjang pantai selatan Jawa setelah terjadi gempa di Chile yang berkekuatan 8,2 SR berdampak pada aktivitas nelayan di Pantai Baron Gunungkidul. Para pencari ikan setempat memilih tidak melaut, mereka takut tsunami benar-benar menerjang kawasan tersebut.
Anggota SAR (search and rescue) Pantai Baron Sukamto mengatakan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, nelayan diimbau tidak melaut sejak Rabu malam (2/4) malam. “Kami terus melakukan pemantauan sejak semalam. Kondisi ombak masih normal,” kata Sukamto.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Budhi Harjo melakukan pendataan terhadap rumah warga yang rusak akibat gempa. Terkait rumah yang rusak BPBD akan memberikan bantuan. “Semoga tidak ada kerusakan berarti,” kata Budhi. (*/iwa)
Takut Tsunami, Nelayan Tidak Berani Melaut