Festival Prajurit di Jumenengan 25 Tahun HB X
JOGJA – Jumenengan 25 tahun Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono X bertakhta 7 Maret ditandai berbagai kegiatan. Salah satunya adalah Festival Bregada Keprajuritan yang diselenggarakan Paksi Katon kemarin (9/3).
Festival dipusatkan di Alun-Alun Utara Jogja. Kelompok-kelompok prajurit berjalan kaki mubeng beteng. Ada 15 bregada yang berpartisipasi.
“Ini juga wujud harapan HB X tetap bisa melanjutkan amanah kebersamaan harmoni Jogjakarta. Festival ini juga sebagai wujud bahwa Jogjakarta memiliki keistimewaan dalam bidang seni dan budaya,” kata KRT Condro Waseso selaku ketua dewan juri.
Bregada Bakda Kupat ditetapkan sebagai bregada dengan penyaji terbaik pertama. Mereka mendapat Piala Sri Sultan HB X.
Penyaji terbaik kedua diraih Bregada Poerboyo. Terbaik ketiga diraih Bregada Pasembaja. Sedangkan harapan pertama dan kedua masing-masing direngkuh Bregada Tanjung Anom dan Bregada Bathok Bolu.
Condro Waseso atau akrab dikenal sebagai Kuswarsantyo menambahkan, festival ini baru pertama kali diselenggarkan. Festival ini untuk merayakan jumenengan HB X sejak Maret 1989.
Menurutnya, festival ini bisa menjadi cerminan kekayaan budaya yang dimiliki Jogjakarta. Bregada-bregada ini umumnya dimiliki setiap kecamatan atau desa. Mereka bertugas sebagai pengawal saat upacara adat atau merti desa.
Dewan juri lainnya, RM Donny Megananda, menyatakan, ada yang berbeda dalam festival ini. Hal itu terlihat dari setiap bregada sudah bisa lepas dari baying-bayang bregada Keraton Jogja dan Puro Pakualaman.
Meski begitu, Donny menegaskan, masih ada beberapa bregada yang mengadaptasi bregada yang dimiliki Keraton Jogja dan Pura Pakualaman. Hal ini, kata dia, sah-sah saja asalkan setiap bregada tetap mengusung unsur kearifan lokal yang dimiliki daerah masing-masing.
“Ini juga melihat fungsinya sebagai pengawal kebudayaan seperti upacara adat. Dari segi kostum, musik atau gerak bisa lebih kreatif. Akan lebih bagus lagi jika potensi seperti budaya, seni, atau kuliner diusung ke dalam bregada,” kata Donny.
Festival ini juga menjadi momentum lahirnya dua bregada baru yang dimiliki Paksi Katon. Bregada ini adalah Bregada Paksi Keraton dan Bregada Paksi Puro. Kedua bregada ini melengkapi bregada yang telah dimiliki Keraton Jogja dan Puro Pakulaman.
Ketua Paksi Katon KRT Condro Padmo Nagoro menyatakan, fungsi dari kedua bregada anyar ini sama seperti bregada lainnya. Kedua bregada ini memiliki fungsi sebagai pengawal kebudayan di Jogjakarta.
“Kedua bregada ini sudah mendapat restu dari Keraton Jogja dan Pura Pakualaman. Fungsinya sesuai dengan visi misi Paksi Katon dalam menjaga dan melestarikan seni dan budaya di Jogjakarta,” kata pria yang akrab dipanggil Suhud itu. (dwi/amd)