SLEMAN – Perpustakaan harus menjadi pusat informasi yang lebih lengkap dari sebelumnya. Sebab, saat ini berbagai informasi bisa didapat melalui media online.
“Bila perpustakaan masih sama seperti dahulu, maka banyak orang yang akan meninggalkannya,” kata Wakil Rektor I Universitas Sanata Dharma (USD) Jogjakarta, Fransisca Ninik Yudianti, dalam seminar Tantangan Perpustakaan di Era Digital di kampus setempat (6/3).Ninik mengatakan mahasiswa sekarang bisa mendapatkan segala informasi dari mana saja. Tanpa harus memiliki kartu perpustakaan, mereka dapat mengambil berbagai sumber pembelajaran tanpa harus berada di dalam perpustakaan.Menurut Ninik, perkembangan era informasi gaya belajar mahasiswa sudah berubah. “Dosen tidak bisa memberikan jawaban yang tidak memiliki kepastian,” terangnya.Sementara itu, pakar Teknologi Informasi (TI) USD Johanes Eka Priyatma mengatakan, perpustakaan seringkali dianggap tempat yang membosankan dan tidak menarik. Hal ini yang sering menjadi kendala peningkatan minat baca. “Persoalan tersebut dapat diatasi dengan implementasi konsep ruang sibernetika. Konsep tersebut dinilai sesuai untuk memahami realitas fisik dan virtual agar perpustakaan menjadi lebih optimal,” jelasnya.Dalam konsep sibernetika ini, bangunan dan fasilitas yang ada di perpustakaan harus dikembangkan sedemikian rupa untuk mendukung eksistensi fisikal. Namun harus memudahkan pengguna memasuki ruang virtual.Jika konsep itu diterapkan, maka suasana perpustakaan di masa depan tidak lagi kaku dengan fasilitas yang seadanya. Namun perpusatakaan nantinya akan menjadi tempat yang ramah dan canggih karena memiliki fasilitas akses ke dunia virtual yang memadai. “Realitas angkringan dengan fasilitas wi-fi bisa menjadi ide dasar implementasi konsep ruang sibernetika untuk perpustakaan,” jelasnya.Dosen Teknik Informatika USD tersebut menambahkan, informasi yang tersaji di perpustakaan secara multimedia menjadi tuntutan saat ini. Apalagi dalam kesehariannya, pengguna perpustakaan lekat dan selalu berinteraksi secara multimedia.Karenanya bandwith internet di perpustakaan harus mencukupi untuk akses konten multimedia. Namun perlu ada pengawasan dari tenaga pendidik agar memakai konten multimedia perpustakaan untuk kepentingan belajar, bukannya untuk kepentingan hiburan. “Masalahnya tinggal bagaimana memberi motivasi untuk memicu semangat belajar dengan penyediaan fasilitas dan akses multimedia,” jelasnya. (bhn/iwa)