KETANGKASAN: Saat ini setidaknya ada lebih dari 20 anggota Komunitas Boomerang Jogja rutin berlatih. Mereka meluangkan waktu pada hari Senin, Rabu dan Jumat di Alun-Alun Utara.
*Komunitas Boomerang Jogja

MENELUSURI asal mulanya, boomerang merupakan senjata khas suku Aborigin dari Australia. Seiring perkembanganya, boomerang tidak lagi digunakan sebagai senjata, namun berkembang sebagai salah satu jenis olahraga. Meskipun dalam bidang olahraga, boomerang belum sepopuler bulutangkis atau sepak bola yang sudah memasyarakat. Berangkat dari keinginan untuk memasyarakatkan hingga cita-cita mencetak atlet boomerang menjadi semangat Komunitas Bumerang Jogja terus eksis hingga saat ini.Komunitas yang terbentuk sejak tahun 2008 ini, berawal dari orang-orang yang hobi dan penasaran dengan boomerang. Mengambil lokasi yang luas yakni di Alun-alun Utara Jogja, komunitas ini memiliki agenda rutin untuk main boomerang bersama. “Tadinya ya hanya beberapa orang, saat kita main, ada yang lewat, mereka mau coba dan akhirnya gabung. Kebanyakan mahasiswa,” ujar Ketua Komunitas Bumerang Jogja Listyo Bramantyo disela-sela latihan belum lama ini.Saat ini setidaknya lebih dari 20 orang rutin berlatih. Mereka meluangkan waktu pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Di waktu inilah, komunitas ini memiliki kesempatan untuk mengenal lebih jauh soal boomerang dan teknis permainannya.Listyo mengatakan boomerang tidak hanya soal material bahan, namun juga teknis melempar dan menangkap. Serta ketepatan, kecepatan, kejelian, dan keberanian. Menurutnya ada anak yang sangat didorong oleh orangtuanya untuk ikut latihan boomerang. Alasannya karena di sekolah dia sering diejek temannya. “Setelah mulai latihan dan sekarang sudah jalan dua tahun, anak itu jadi lebih percaya diri,” cerita salah satu pembentuk Asosiasi Boomerang Indonesia ini.Komunitas ini terbuka bagi siapapun, meskipun saat ini memang mayoritas masih berstatus mahasiswa. Mereka yang tidak tahu boomerang atau yang penasaran juga bisa bergabung dan bermain bersama.Menurutnya boomerang ada tingkatannya, yakni pemula dengan jarak lempar kurang dari 20 meter. Kemudian medium dengan jarak lebih dari 20 meter dan skill yang memungkinkan pemain boomerang mengikuti kompetisi.Material boomerang juga beragam, mulai dari kayu seperti jati, mahoni, sawo, akasia, kelengkeng, kemuning hingga fiber. Selain material, model, berat dan ukuran juga mempengaruhi kestabilan boomerang itu sendiri. “Sayangnya kita ketinggalan dengan negara lain yang sudah rutin mengadakan turnamen boomerang,” ujar pria yang sejak tahun 1990 memproduksi boomerang.Salah satu cita-cita komunitas ini tidak hanya ingin masuk daftar KONI sebagai asosiasi olahraga yang legal. Namun juga dapat mencetak atlet boomerang. Seperti penuturan Listyo, jalan menuju turnamen boomerang di luar negeri memang masih panjang. Namun setidaknya komunitas ini ingin terus menyosialisasikan boomerang sebagai salah satu jenis olahraga yang menyehatkan sekaligus menyenangkan.Meskipun sudah marak dan cukup dikenal masyarakat, namun boomerang belum memiliki daya pikat sebagai olahraga yang patut dijalani secara professional. “Saat ini kebanyakan memang hanya menjadikan ini sebagai hobi saja,” ujar Listyo. (dya/ila)