*Sebelum Kejadian Pelemparan Bom Molotov ke Rumah Frietqi Suryawan
MAGELANG – Sebelum pelembaran bom molotov ke rumah Wartawan Radar Jogja (Jawa Pos Grup) Frietqi Suryawan, intimidasi juga dialami Wartawan Magelang Ekpres (ME), Wiwid Arif Setyoko sebelumnya. Ia mengalami kekerasan verbal dan tindakan yang tidak menyenangkan.
Kepada koran ini, Wiwid mengaku, dirinya mengalami hal tersebut saat akan melakukan konfirmasi ke Dinas Pengelolaan Pasar (DPP), terkait pemberitaan pembangunan sekat antarlos, Selasa (18/2).
“Sebelumnya, saya sudah janjian dengan Pak Isa (Isa Ashari, Kepala DPP, Red) pukul 14.00. Karena suatu hal, akhirnya baru bisa ketemuan pukul 15.00,” jelas Wiwid, kemarin (25/2).
Sebelum sempat mendapat klarifikasi dari Isa Ashari, ia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari salah satu anak buah Isa Ashari.
“Dia datang kembali sembari marah-marah dan membawa koran. Dia juga membanting koran sembari berkata, dasar berita ini apa,” imbuh Wiwid.
Wiwid berusaha menjelaskan dasar tulisan yang diturunkan Magelang Ekpres pada Selasa (18/2), adalah pernyataan Eddy Sutrisno saat wawancara di Pasar Penampungan.
“Penjelasan itu tidak bisa diterima. Ia malah menanyakan alamat saya. Ya, saya jawab dengan apa adanya, saya berasal dari Kecamatan Bandongan,Kabupaten Magelang. Saat itu, ia masih mengejar dengan pertanyaan Bandongan mana,” kata Wiwid yang tengah menyelesaikan studinya di Universitas Tidar Magelang (UTM).
Jawaban yang disampaikan Wiwid tidak membuat orang yang mengintimidasi puas.
“Saat itu, ia ngomong dalam bahasa Jawa. Saat itu, saya maknai kalau saya punya saudara dan orang lain juga punya saudara. Kalau anda dicelakai di jalan bagaimana,” paparnya.
Wiwid mengaku persoalan tersebut sudah disampaikan ke Polres Magelang sebagai langkah antisipasi. Setelah itu, Polres Magelang meminta semua nomor telepon dan alamat wartawan di Kota Magelang. Termasuk nomor kendaraannya.
“Semua data sudah dimasukkan ke Polres Magelang. Saya sempat ditawari, apakah kasus intimidasi tersebut akan dilaporkan. Tetapi hal tersebut masih kami pertimbangkan,” katanya.
Kapolres Magelang Kota, AKBP Tommy Aria Dwianto mengaku akan melindungi kerja wartawan di wilayah hukumnya, secara profesional dan proporsional.
“Hal-hal seperti itu harusnya tidak terjadi. Kami bersungguh-sungguh menciptakan rasa aman bagi kerja wartawan maupun masyarakat lainnya,” tegasnya.(ady/hes)