Karya lukis unik disajikan oleh Anggar Prasetyo dalam pamerannya kali ini. Bertajuk Texture Structure II, karya-karya milik Anggar ini dipajang di Sangkring Art Space, Bantul. Karya yang menonjolkan citraan tekstur ini pun akan menghiasi dinding Sangkring Art Space hingga 3 Maret.
DWI AGUS, Bantul
Sebagai seorang seniman seni rupa, Anggar memiliki cara tersendiri mengekspresikan daya kreatifnya. Tekstur dipilih sebagai gaya melukisnya karena mampu menyajikan keindahan yang berbeda. Dengan mengaplikasikan sifat khas permukaan sebuah bentuk, diakui Anggar menjadi sudut pandang yang berbeda.
“Struktur memiliki makna bagaimana cara mencipta, membangun, atau memandu beberapa bentuk. Salah satu nilai seni itu justru terletak pada elemennya itu sendiri. Karena seni rupa adalah persoalan elemen visual yang tersaji dalam seni rupa itu sendiri,” kata Anggar kemarin (24/2).
Anggar pun memiliki pandangan unik tentang mengolah elemen visual ini. Untuk menghasilkan karya yang diinginkan perlu melakukan penekanan bahwa seni rupa itu untuk mata. Sehingga dalam kesempatan ini bisa menyajikan apa yang tampil dan bukan tentang apa yang dihadirkan.
Pameran Texture Structure II karya Anggar kali ini menyajikan warna-warna yang berbeda dari pameram sebelumnya. Dengan judul yang sama, Anggar pun pernah berpameran di Jogja Contemporary tahun 2011 lalu. Bedanya dalam pameran pertama, Anggar lebih cenderung menyajikan warna-warna monokrom.
Dalam pameran kali ini, Anggar sudah berani bereksperimen dalam warna. Tentunya dengan warna-warna ini mampu menonjolkan tekstur yang dilukis olehnya. Selain itu dengan warna-warna ini lebih memberikan kesan hidup dari setiap lukisan yang disajikan.
“Karya-karya ini merupakan rentang karya dari tahun 2012 hingga 2014. Tetap ada dominasi satu warna dalam satu lukisan. Tidak menyajikan warna yang terlalu colorful juga agar centre of interest-nya bisa tetap terlihat,” kata Anggar.
Untuk mendalami gaya melukisnya saat ini, Anggar mengaku telah melakukannya sejak 10 tahun. Konsep yang diusungnya adalah bagaimana menggali estetika seni rupa. Caranya dengan memahami ruang, bidang, dan tektur suatu benda.
Untuk mendapatkan konsep tektur yang diinginkan, Anggar pun konsisten dalam melakukan pencarian. Proses ini dilakoninya dengan gaya yang mengalir dan mengapresiasi objek yang dilihatnya. Proses yang gagal pun menjadi hal yang lumrah dalam menciptakan karya lukis yang unik ini.
“Gagal itu bagian dari belajar, justru saat masa ini datang jangan down. Dari kegagalan ini terus diolah hingga menghasilkan apa yang kita inginkan. Kadang dalam proses pengulangan ini bisa terjadi beberapa kali untuk mendapatkan karya lukis yang diharapkan,” kata Anggar. (*/abd)