Ajang fesyen tahunan Indonesia Fashion Week (IFW) akan kembali digelar. Kegiatan yang berlangsung pada 20 hingga 23 Februari 2014 di Jakarta Convention Center, Jakarta ini akan diikuti oleh para anggota BPD Asosiasi Perancangan Pengusaha Mode Indoensia ( APPMI) dari seluruh Indonesia. APPMI DIJ sendiri mengikutsertakan sembilan desainer dalam kegiatan pemeran dan tujug desainer dalam kegiatan parade show IFW 2014.Ketua APPMI DIJ Lia Mustafa mengatakan IFW merupakan wadah untuk memperkenalkan kebudayaan dan khazanah Indonesia melalui dunia fesyen. Bagaimana masing-masing perancang yang bergabung dalam APPMI di seluruh daerah mampu menggali kekayaan lokal yang ada dalam karya desain busana. “Pada IFW 2014 kita mengacu pada tren 2015 yang mengangkat kelokalan atau local movement, dimana bukan hanya batik atau tenun saja, tapi dari semua aspek,” ujar Lia beberapa waktu lalu.Dirinya mengatakan dari tahun-tahun sebelumnya, tren yang diangkat selalu mengacu pada dunia internasional. Namun kali ini ingin lebih mem-branding dengan membuat pengakuan internasional melalui tren fesyen yang ada di Indonesia sendiri. “Tren 2015 mengacu pada empat tema besar yang mengambil nama-nama kota yang ada di Indoensia, yakni Jakarta, Jogja-Solo, Banjarmasin dan Papua,” ujar Lia.Desainer Jogja yang akan berpartisipasi menampilkan koleksinya dalam parade show yakni Afif Syakur, Phillip Iswardono, Sugeng Waskito, Mudrika Paradisa, Amin Hendra Wijaya dan Dani Paraswati. Selain parade, mereka juga mengikuti pameran termasuk Lia Mustafa, Ratri Kristiani dan Dewi Ranaya.Pada IFW 2014 nanti, Mudrika menyiapkan 10 busana evening berupa gaun dipadukan dengan beberapa detail border dan beads. Terinspirasi dari Kerajaan Kutai yang mengalami masa keemasan sebagai kerajaan Islam, Mudrika mengusung tema yang mengandung nilai spriritual dan tradisi. Inspirasinya diambil dari acara adat yang bernama Erau Beredar, sebuah acara adat dalam rangka pengukuhan, pengangkatan, penabalan atau segala hal yang berkaitan dengan ketahtaan. “Mantel yang digunakan raja diaplikasikan ke dalam desain luaran yang kaku, desain dibentuk rigid melambangkan sebuah kekuasaan,” ujar Mudrika.Memberikan kesan elegan dari seorang ratu, Mudrika mengaplikasikan desain dengan dominasi warna emas dengan warna dasar gelap. Dipadukan dengan warna hijau dan ungu yang menjadi warna pakaian anggota kerajaan Kutai. Sedangkan bentuk sayap pada beberapa desain diambil dari bentuk mahkota raja yang berwarna emas.Masih dengan koleksi busana muslim, Dani Paraswati mengusung tema Java Ernus yang terinspirasi dan berasal kata dari bahasa Latin yang artinya Jawa masa kini. Inspirasi para perempuan masa kini yang enerjik, modern dan elegan. Anggota APPMI DIJ yang baru saja dilantik ini merangkumnya dalam unsur tradisional Jawa. Dikemas secara apik dalam paduan batik dan mode masa kini. Gaya modern yang membalut bahan tradisional menjadi kekuatan rancangan Dani yang akan ditampilkan pada IFW 2014 besok. “Saya aplikasikan batik dalam rancangan yang orang luar negeri suka, misalnya coat panjang dengan bahan batik,” ujarnya.Amin Hendra Wijaya menambahkan tren 2015 akan banyak didominasi siluet yang bertumpuk. Busana muslim juga akan menjadi perhatian sendiri dengan semangat untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat busana muslim di tahun 2020. “Potongannya jika panjang akan sangat maksimal, jika pendek akan sangat minimalis,” ujar Amin. (dya/ila)