Senin, 20 Mei 2013
Memikirkan Resiko dan Keuntungannya
Saturday, 03 March 2012 10:52

Memikirkan Resiko dan Keuntungannya


Alkisah,di masa periode Musim Semi dan Musim Gugur (770 SM – 476 SM), raja Negara Wur ingin menyerang Negara Chu. Dia tidak mau menerima alasan keberatan macam apapun. Suatu ketika, dia menyadari bahwa setiap pagi, selama tiga hari berturut-turut seorang bawahannya yang masih muda pergi ke halaman belakang. Dan kembali dengan pakaian basah kuyup karena embun.
Ketika raja Wu menanyakan alasannya mengunjungi halaman belakang, bawahan tersebut menjawab, bahwa di salah satu pohon di belakang halaman ada seekor jangkrik yang terus bernyanyi. Jangkrik tersebut benar-benar tidak menyadari akan adanya seekor belalang dengan kaki depan yang siap menyerang di belakangnya.
Namun demikian, belalang itu juga tidak menyadari bahwa ada seekor kepodang tepat di belakangnya yang siap mematuknya. Kepondang itu pun hanya berada di belakangnya dengan busur dan anak panah yang terbidik ke arahnya. Mereka hanya memikirkan apa yang ada di depan mereka tanpa mewaspadai bahaya yang mengintai dari belakang.
Mendengar jawaban tersebut, Raja Wu lalu merenungnya. Dia menarik kearifan dari cerita tersebut dan memutuskan penyerangan terhadap Negara Chu. Dari cerita ini, banyak kisah yang bisa diambil. Seseorang memerlukan kesabaran, kecerdasan dan pertimbangan yang matang dalam memutuskan sesuatu atau menjalani semua bidang usaha.
“Kita seringkali nekat tanpa pertimbangan matang. Ini tidak tepat karena pasti tidak memikirkan resikonya,” kata Hoei King Bing, pemerhati budaya Tionghoa saat ditemui Radar Jogja di kantornya, kemarin (2/3).
Koh Bing- sapaan akrab Hoei King Bing mencontohkan, untuk berbisnis memang diperlukan keberanian dan kenekatan menerjuni dan menekuni usaha tersebut. Namun, modal nekat tentu juga harus dibarengi dengan  perhitungan yang detail dan lengkap. Apalagi terjun di bisnis, kombinas kenekatan dan perhitungan menghasilkan sesuatu yang lengkap.
“Ini tidak hanya buat bisnis saja. Di semua bidang, perekonomian, budaya, pertemanan pasti harus bisa memperhitungkan untung-ruginya dalam melangkah,” kata owner Toko Mas Kranggan ini.
Pemilik nama Indonesia R. Herianto Kurniawan MBA ini menegaskan, menjalankan sebuah organisasi tentu juga diperhitungkan pertimbangan yang masak, program yang jelas dan langkah yang tepat. Demikian pula dalam berkehidupan bernegara. Para tokoh pemerintah dan pejabat pemerintah tentu saja merupakan orang yang tepat menjalankan jalannya roda pemerintahan. Ini lebih lengkap dengan adanya metode pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat melalui dewan, melalui saluran lain yang diperbolehkan. “Makanya, dalam melakukan sesuatu diperlukan pertimbangan yang matang,” katanya.
Diingatkan oleh penggemar lagu-lagu Koes Plus ini, tanpa pertimbangan yang matang, sesuatu yang diputuskan akan berakibat fatal. Misal, dalam berbisnis akan bangkrut. Dalam berpolitik akan keliru, dalam bermasyarakat akan dimusuhi orang lain, di rumah tangga, juga bisa memunculkan konflik internal yang bisa-bisa diketahui tangganya.
“Begitu diketahui orang lain, sudahlah hancurlah semuanya yang dirintis dan diperjuangkan. Makanya, dalam segala hal perlu pertimbangan yang matang dan tepat,” katanya.
Koh Bing mengingatkan, hati nurani tidaklah bisa berbohong. Melangkah dan memutuskan sesuatu dalam segala hal, bisa mengikuti hati nurani. Hati nurani tentu tidaklah menuntun orang ke arah keburukan. Justru sebaliknya, hati nurani yang menjadi obor kehidupan akan mengarahkan seseorang menuju jalan yang benar. “Tidak mungkin orang melakukan korupsi karena hati nurani. Mereka melakukan itu karena nafsu hewani, nafsu duniawi semata,” sindir Koh Bing.(*/hes)

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.