Town Square
|
...
|
|
...
|
|
...
|
|
...
|
|
...
|
|
...
|
|
...
|
|
...
|
|
...
|
|
...
|
|
...
|
|
|
|
|
Friday, 02 March 2012 11:50 |
Cintai Ayam Liar Lewat KEMARI
Ayam Bekisar bukan asing lagi di telinga pecinta unggas. Ayam ini sebagai keturunan F1 hasil perkawinan ayam hutan jantan (Gallus varius) dan ayam Kampung betina (Gallus gallus domesticus). Sejak lama, jenis ini menjadi primadona dalam kelas ayam hias. Selain bulu yang indah, kokok ayam ini juga memikat. Di samping itu, postur tubuh yang gagah menjadi daya tarik tersendiri bagi ayam hutan. Di Jogjakarta, komunitas ayam Bekisar menjadi yang terbesar dibandingkan beberapa kabupaten dan kota. Lewat organisasi Keluarga Penggemar Bekisar Indonesia (KEMARI) Jogjakarta, pencinta ayam Bekisar saling bersilaturahmi dan membagi pengetahun mengenai pembudidayaan ayam kesayangan ini.
Tidak hanya mengelar pertemuan rutin, KEMARI kerap mengelar kontes ayam Bekisar yang melombakan berbagai nomor. seperti kelas utama, kelas madya, dan kelas pratama. Salah satu kontes Bekisar bertaraf nasioal adalah even Bupati Cup Bantul dan kontes Bekisar Piala Raja Sri Sultan Hamengku Buwono X. Pemerhati Bekisar asal Jogja, Lulu S. Budihardjo mengatakan, saat ini kualitas dan kuantitas Bekisar kontes di DIJ merata di kota dan kabupaten. Hanya saja, masing-masing dari mereka belum merata memelihara ayam hutan, sebagai cikal bakal Bekisar. Karena itu, dia berharap pencinta ayam bekisar di Jogjakarta bisa berpartisipasi aktif mengembalikan ekosistem hutan Merapi pascaerupsi, beberapa waktu lalu. Menurut Lulu, ayam hutan hijau dipastikan tidak tampak lagi di antara hutan di lereng Merapi. Apalagi ayam Bekisar Jogja mempunyai karakter yang unik dan kerap menjadi incaran pengemar Bekisar di Indonesia. Penulis buku ‘Beternak Ayam Alas dan Bekisar’ ini menjelaskan, setidaknya ada empat tipe ayam bekisar yaitu Bekisar Kangean dari Madura yang dibentuk dari induk betina berbulu satu macam. Misalnya, hitam, merah, putih, kuning, dan abu – abu. Ada juga Bekisar Putih asal Jogja yang berwarna putih. Ini merata mulai dari paruh hingga telapak kaki, kecuali jengger, pial, dan cuping berwarna merah. Bekisar Hitam dari Parakan menjadi varian yang cukup diminati. Bekisar itu merupakan silangan dengan ayam Kedu Hitam betina. Bentuk tubuh tinggi, besar, tegap, dan berbulu hitam. Terakhir, Bekisar multiwarna dari Surakarta. Ciri khas bekisar Surakarta adalah warna yang beragam pada bulunya. Selain itu, Bekisar Surakarta mempunyai suara nyaring dengan ujung suara meninggi, ukuran tubuh sedang. Ayam Bekisar multiwarna mempunyai bulu warna – warni dengan bulu leher, bulu pelana, dan bulu hias berwarna merah menyala. Berdasarkan perbedaan fisiologis, ayam Bekisar dibedakan menjadi beberapa cirri. Yaitu Gallus Aenus yang berjengger bergerigi delapan kecil, pial berukuran sedang, warna bulu pada lapisan atas ungu dengan plisir kuning emas. Gallus Temmincki memiliki jengger bergerigi emas, pial berwarna jambu, bulu merah mengkilap dan berplisir merah kecoklatan. Serta Violanceus dengan jengger bergerigi, sedang, warna ulunya ungu dengan permukaan yang halus. Pengembangbiakan ayam Bekisar juga mempunyai proses yang unik. Proses itu dimulai dengan meletakkan jago ayam hutan hijau ditaruh dalam satu kurungan dengan ayam betina kampung. Mula-mula mereka ditaruh dalam dua kurungan yang berbeda, tetapi ditaruh berdekatan. Setelah kelihatan ayam hutan jantan itu naksir, barulah mereka disatukan. Perkawinan ala Surakarta ini terjadi secara alamiah. Kendalanya, ayam hutan jantan hanya mau naksir ayam betina kampung yang berperawakan kecil (mirip ayam hutan betina) dan yang warna bulunya "lurik" cokelat abu-abu. Teknik perkawinan untuk menghasilkan Bekisar cara mutakhir adalah dengan kawin suntik. Penyilangan ini harus dilakukan untuk menghasilkan Bekisar. Sebab hasil silangan ayam hutan dengan ayam kampung akan selalu mandul. Sampai saat ini, Bekisar tetap diproduksi penangkar. Namun "gaungnya" di masyarakat sudah tidak seperti tahun 1980-an. Di lain pihak, muncul juga upaya melestarikan keberadaan ayam hutan hijau yang habitat aslinya semakin rusak. Upaya itu adalah dengan domestifikasi. (leg/hes) |
|
|