|
[Senin, 27 Juli 2009] Sejam Menunggu Bupati Datang
BANTUL - Pesta Seni Gabusan 2009 ditutup penampilan pantomimer Jemek Supardi yang berkolaborasi dengan Kelompok Angon Naga (Patang Puluhan) Sabtu malam (25/7) di Pasar Seni Gabusan, Bantul.
Acara ini dihadiri masyarakat Bantul dan para dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Penutupan sempat diundur sejam. Rencananya dimulai pukul 20.00, baru baru digelar pukul 21.00. Acara mundur itu karena panitia memutuskan menunggu kehadiran Bupati Bantul Idham Samawi. Sebab, Jemek sangat ingin mendedikasikan karyanya tersebut kepada Idham. Para penonton sempat mengeluhkan kondisi tersebut. Namun, mereka tetap bertahan karena ingin menyaksikan aksi Jemek melawan naga. Selama menunggu kedatangan Idham, pemain gendang Sujud Sutrisno menghibur para penonton. Dia membawakan lagu-lagunya jenaka. Tak lama setelah Idham tiba, Jemek segera naik panggung. Dia membawakan karya berjudul Bantul Bergerak. Lakon ini mewujudkan salah satu ekspresi Bantul yang masyarakatnya berusaha menekan dan melawan kapitalisme di era globalisasi ini. Bantul ingin berusaha lebih mengembangkan ekonomi mikro. Serok, sothil, kukusan, enthong, keranjang bambu, besek, dan sejumlah peralatan dapur tradisional lainnya adalah properti Jemek selama pentas. Baginya ini adalah sebuah ritual untuk menyelamatkan niliai-nilai tradisi yang semakin terdesak jaman. Pada saat Jemek melakukan ritual dengan alat-alatnya itu, tiba-tiba muncul naga raksasa yang berusaha merusak ritual tersebut. Naga itu mengejar Jemek dan berusaha menekannya. "Naga raksasa saya gambarkan sebagai kekuatan besar yang akan menguasai dunia. Kekuatan besar itu akan menerkam apa saja yang menghalangi, termasuk segala hal yang berbau tradisi. Ini keprihatinan saya terhadap berdirinya banyak mal dan supermarket yang telah menggusur pasar tradisional. Saya hanya bisa berbicara melalui karya seni semacam ini," ungkap Jemek prihatin. Sebagai pencetus ide, Jemek memilih naga sebagai simbol kekuatan ekonomi besar dan kekuatan ekonomi kecil disimbolkan oleh peralatan tradisional. "Dulunya alat memasak tradisional itu adalah kekuatan ekonomi kita. Namun sekarang globalisasi itulah yang sekarang mulai ingin menguasai dunia dengan cara menghancurkan kekuatan tradisi lokal kita," lanjut Jemek. (cw3) |