Jumat, 30 Juli 2010
Sa Langit Mong Bughaw, Dialog Antara Indonesia – Filipina

[Selasa, 7 Juli 2009]

Sa Langit Mong Bughaw, Dialog Antara Indonesia – Filipina

BANTUL – Empat seniman dari Filipina, Ambie Abano, Christina Quisumbing Ramilo, Pardo de Leon dan Popo San Pascual

membuat ruang dialog antara Indonesia dan Filipina. Dialog itu diwujudkan mereka lewat pameran di Tembi Contemporary sebagai puncak rangkaian Program Residensi Valentine Willie di Bali, mulai 3 Juli 2009 lalu.
Mengusung judul Sa Langit Mong Bughaw (di bawah langit birumu), empat seniman Filipina tersebut berusaha melebur bersama syair di balik keberagaman fragmen patriotik sentimen dan medium. Mereka menciptakan karya-karyanya pada penekanan tematik dan konseptual antara Filipina dan Indonesia. Lapisan perbedaaan apapun, pada akhirnya, berakar pada kekhasan sejarahnya. Pada kasus Filipina dan Indonesia, keduanya memiliki kebudayaan yang berbeda.
Namun, kedua negara ini saling berkaitan dalam hal seperti, kolonisasi dan masa peradaban yang semakin bertolak belakang, gelombang patriotisme dan kebencian, peran pengaruh Barat, pencarian identitas, dan kaitannya dengan publik yang lebih besar dalam peranan seni.
“Saya hanya merekam wajah dalam bentuk lain. Menata figur serta wajah dengan hasil cetak karet pada spandex. Karya-karya ini kebanyakan berpusat pada potret psikologis orang-orang yang sedang berdoa. Di mana isu agama yang menjadi pokok penting bagi kebudayaan Filipina. Isu serupa juga terjadi di Indonesia,” ujar Ambie Abano, seniman grafis/cetak.
Christina Quisumbing Ramilo mempersembahkan karya instalasi fungsional yang secara umum menggunakan bahan temuan di Jogja. Ia mengambil objek kehidupan sehari-hari seperti tempat tidur, kardus, gerobak dan bingkai. Ia juga menggunakan teks temuan untuk mencari konsep pertukaran kata-kata umum antara Indonesia dan Filipina. Seperti teks mahal dan ingat yang dipahatkan, terdapat dalam bahasa Indonesia dan Filipina.
Beda lagi dengan karya-karya Pardo de Leon yang cenderung mengambil tema masa Reinassance. Figur-figur diambil dari gambar kapur maestro Italia pada masa itu, seperti Leonardo da Vinci dan gambar-gambar acak lainnya. Ia mendokumentasikan  pijakan yang lemah dalam upaya merengkuh gaya visual menggambar dan melukis sekaligus tradisi seni bersejarah di masa lalu maupun masa kini.
Juga karya-karya abstrak Popo San Pascual memainkan warna-warna yang berani dan nyaris cair dalam gerakannya. Karya-karyanya nyaris tak berbatas, memperlihatkan spontanitas yang mengagumkan. (cw3)

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.