Kamis, 09 September 2010
Meraba-raba Rasa, Selalu Menarik Diperbincangkan

[Minggu, 26 Juli 2009]

Pameran Bersama Para Perupa Otasa di Jogja National Museum
Meraba-raba Rasa, Selalu Menarik Diperbincangkan

Rasa, di mana setiap manusia mempunyainya, tentu memiliki nilai tersendiri.

Rasa juga memiliki ungkapan sendiri, akan bagaimana jadinya tentu hanya perasa itu yang bisa mengungkapkannya. Dengan berbagai macam cara, seperti yang terlihat di karya-karya enam perupa ini, inilah hasil ekspresi rasa pada karya mereka.

Arfiana Khairunnisa, Jogja

PARA perupa yang tergabung dalam kelompok Obahing Tangan Agawe Senenge Ati (Otasa) yang terdiri dari Bambang Harnowo, Mahmudi Agus Antono, Adhik Kristiantoro, Farhan Adityasmara, Harlen Kurniawan, dan Tri Pamuji W menggelar pameran yang bertajuk Raba Rasa. Pameran yang berlangsung di Jogja National Museum, Gampingan, Jogja itu dibuka Jumat malam (24/7).
Pada malam pembukaan itu, para perupa merasa lega. Pada akhirnya, mereka bisa menggelar pameran bersama. Dalam kesempatan kali ini, mereka menampilkan karya-karya terbaru. Mereka sengaja mengambil tema pameran yang mempersoalkan rasa karena berkaitan dengan pijakan karya-karya yang dipamerkan mengeksplorasi di sekitar wilayah itu.
Rasa, jiwa, perilaku adalah sesuatu yang sangat menarik untuk selalu diperbincangkan di era modern ini, meski akan tampak dampak berbeda-beda. Perbedaan akan rasa, jiwa, dan perilaku seseorang yang selalu berbeda menimbulkan keindahan dan kenikmatan akan sikap kritis, nurani, dan akal sehat untuk menghasilkan kreativitas yang diterjemahkan dalam visual.
Keenam perupa ini memiliki ciri khas berbeda-beda, baik dalam ide mupun kreativitas dalam karya. Lihat saja karya-karya dua dimensi Bambang Harnowo. Pada karyanya ia menampilkan hal-hal sepele seperti kolor ijo, babi, pohon dan lain-lain. Tapi pada hal-hal tersebut, ia meraba dengan teknik menggambar arsiran garis-garis yang baru bisa kelihatan ketika mereka menjadi satu bagian.
Tak hanya karya dua dimensi yang ditampilkan para perupa Otasa, ada juga karya tiga dimensi atau instalasi. Misalnya saja karya Farhan Adityasmara berjudul What Is Your Plan? Dalam karya ini ia menampilkan balon dalam berbagai macam dimensi dan warna.
’’Kita melihat balon sebagai benda yang menjadi objek anak-anak, membuat anak-anak senang. Namun, bisa juga balon berarti lain. Jika balon itu pecah, maka seorang anak yang membawanya akan menangis. Dalam hidup ada dua pilihan atau rencana yang dibuat manusia, senang atau susah dan gagal atau berhasil,’’ jelas Farhan tentang karyanya tersebut.
Pada kesempatan pembukaan pameran itu pula, Buyung Mentari secara khusus melakukan performing art dengan menjadi objek pameran. Ia melumuri tubuhnya dengan lumpur kemudian bersatu dengan karya instalasi dari Mahmudi Agus Antono berjudul Bumi Lestari. Dalam karya itu menampilkan kepala manusia yang terbuat dari keramik yang dijadikan pot sebagai tempat tumbuh calon pohon.
’’Saya mencoba mengadopsi salah satu isu global warming dalam karya ini. Saya secuil bagian yang ingin memberi pencerahan tentang pentingnya menanam kembali hutan. Harapan akan tumbuhnya pohon di benak manusia tidak hanya sekadar phon dalam arti fisik. Tapi juga sebagai pohon pengetahuan atau pohon kehidupan,’’ kata Mahmudi.
Pada akhirnya, pencapaian kreativitas setiap orang berbeda-beda, tergantung seberapa dalam ia menyerap situasi dan kondisi yang disediakan lingkungannya. Karya-karya lain seperti Rumah Gadang (Harlen Kurniawan), Aku Pingin Sing Kuwi (Tri Pamuji), dan Yang Jelas Bukan Kambing (Adhik Kristiantoro), menjadi fragmen menarik yang dapat kita temui sehari-hari. Tergantung rasa kita bagaimana menangkapnya. ***

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.