|
Friday, 22 March 2013 10:00 |
|
JOGJA - Perguruan tinggi kini tidak bisa seenaknya membuat program studi yang dikelola hanya mendapatkan akreditasi C. Apalagi, akreditasi tersebut diperoleh hanya karena prodi tersebut sudah terdaftar di Kemendikbud. Karena sesuai surat edaran Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) per tanggal 1 Maret, setiap prodi yang terakreditasi C karena baru didaftarkan, wajib melakukan reakreditasi.”Bila instansi yang bersangkutan tidak mengurus reakreditasi maka prodi tersebut dilarang mengeluarkan ijazah
|
|
|
Thursday, 21 March 2013 10:21 |
|
SLEMAN - Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Indonesia (UII) menyumpah 118 apotekernya di Auditorium Kahar Muzakkir (20/3). Hingga angkatan ke-20 ini, FMIPA UII telah meluluskan 2.012 orang apoteker. Rektor UII Prof Edy Suandi Hamid mengatakan apoteker harus dapat berperan memberi informasi secara valid terkait obat-obatan kepada masyarakat. Proses pendidikan apoteker belum berakhir dan dituntut mengembangkan kompetensi dan profesionalitasnya.“Seorang apoteker harus mampu menjadi pelayan masyarakat. Mereka diharapkan bisa membawa perubahan positif di masyarakat,” kata Edy kemarin.Ketua Komite Farmasi Nasional Purwadi mengatakan tahun ini telah memasuki tahun terakhir pencapaian target Milenium Development Goals (MDGs). Yakni gerakan yang bertujuan tercapai kesejahteraan dan pembangunan bagi rakyat. Namun krisis tenaga kesehatan global menjadi hambatan utama sistem kesehatan di Indonesia.“Oleh sebab itu apoteker juga dituntut perannya dalam pelayanan kesehatan, dan diperlukan kerja ekstra oleh semua elemen masyarakat untuk mencapai target tersebut,” tandas Purwadi.Selain kelulusan ratusan apoteker tersebut, UII berhasil meraih skor tertinggi dengan nilai A pada penilaian Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT). Yakni sangat baik, dibanding dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) lain di tanah air. (bhn/iwa) |
|
Thursday, 21 March 2013 10:17 |
|
SLEMAN - Indonesia diprediksi masuk sepuluh besar negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia pada 2030. Hanya saja, siapa yang nantinya akan mengendalikan perekonomian Indonesia masih menjadi tanda tanya besar. Apalagi perkembangan ekonomi di Indonesia saat ini masih didominasi oleh asing.”Siapa yang akan men-drive perekonomian dan sumber daya manusia masih menjadi tanda tanya. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi yang besar hanya dikuasai oleh segelintir orang,” kata Rektor UGM Prof Pratikno dalam serah terima dan peresmian Pertamina Tower Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UGM (20/3).Pratikno mengatakan, perguruan tinggi harus dilibatkan dalam mendorong perekonomian di Indonesia. Terutama dalam penyaluran ilmu pengetahuan dan hasil riset.Pratikno menegaskan, pihaknya berkomitmen dalam pendistribusian hasil risetnya kepada masyarakat serta dunia industri. Dengan komitmen tersebut, jelas pria asal Bojonegoro Jawa Timur ini, UGM terbuka untuk melakukan kerjasama dengan industri dalam bertukar pengalaman. Pratikno berharap, industri bekerja sama dengan UGM dalam mengisi semester pendek.“Jangan sampai apa yang dihasilkan UGM hanya jadi prototype di laboratorium saja. Sedangkan inovasi yang banyak beredar di Indonesia justru berasal dari luar,” tegasnya. Di tempat yang sama, Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan dalam sambutannya mengatakan SDM memiliki peran penting dalam pembangunan. Oleh karenanya pihaknya mendukung pengembangan pendidikan di Indonesia dalam berbagai program. Salah satunya adalah batuan pendirian Gedung Pertamina Tower UGM.”Pembangunan gedung ini diharapkan bisa memfasilitasi mahasiswa ekonomi untuk melakukan praktik simulasi kegiatan ekonomi,” jelasnya.Tidak hanya UGM, jelas Karen, Pertamina juga telah membantu pelatihan guru melalui program teachers quality improvement program (TEQIP) yang telah dijalankan selama empat tahun dan telah menjangkau 25 ribu guru yang tersebar di pulau terdepan. (bhn/iwa) |
|
|
Wednesday, 20 March 2013 09:58 |
|
SLEMAN - Gubernur DIJ, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mendukungan upaya penguatan eksistensi kelembagaan dan program RRI dan TVRI sebagai lembaga penyiaran publik. Dukungan ditunjukkan supaya pemerintah dan DPR segera membahas dan menetapkan UU penyiaran baru yang menegaskan penguatan RRI dan TVRI sebagai lembaga penyiaran publik yang independen dan netral.”RRI nantinya dapat melakukan penyeimbangan berita antara kepentingan pemerintah dan aspirasi masyarakat dalam mengakses informasi dari manapun apabila ingin merebut minat pendengar,” kata HB X dalam diskusi Penguatan Kelembagaan RRI Melalui Undang-undang khusus Lembaga Penyiaran Publik, Selasa (19/3) di Balai Senat UGM.HB X berharap RRI beorientasi pada penyiaran yang mengusung nilai-nilai lokal dan kepentingan masyarakat lokal. Program yang menuntut adanya reposisioning dalam penyiaran berita-berita pembangunan juga menjadi hal yang harus dilakukan sebagai upaya mencerdaskan bangsa.Ketua Komisi I DPR Mahfudz Sidiq menyampaikan DPR saat ini tengah membahas RUU Penyiaran dan UU khusus tentang Lembaga Penyiaran Publik (LPP). Keberadaan UU tersebut semakin memperkuat kelembagaan lembaga penyiaran publik (RRI dan TVRI) sebagai ruang publik yang mengapresiasi danmerawat kebudayaan.“DPR komit menyiapkan dan membahas aturan khusus tentang lembaga penyiaran publik dan akan mendorong ketersediaan alokasi anggaran yang cukup untuk RRI dan TVRI,” katanya.Mahfudz menjelaskan bahwa pembahasan UU lembaga penyiaran publik ini memakan waktu panjang. Pasalnya masih terdapat pertentangan sejumlah anggota DPR lainnya yang menganggap aturan ini belum masuk prolegnas.Rektor UGM Prof Pratikno menyebutkan Indonesia membutuhkan energi kolektif tingkat nasional untuk menemukan dan menjalankan terobosan komperehensif dan sinergis dalam membangun bangsa.“Keistimewaan DIJ ini sebagai peluang praktik yang baik. Tidak hanya bagi Jogja, tetapi juga sebagai tempat pembelajaran untuk daerah lain dan insiprasinasional,” paparnya. (bhn/iwa) |
|
Wednesday, 20 March 2013 09:53 |
|
JOGJA - Infrastruktur penunjang sangat diperlukan dalam pendidikan. SMA Muhammadiyah 7 Jogja pun membangun Gedung Multiguna Siti Chodijah (GMSC) guna menunjang kegiatan siswa maupun warga Muhammadiyah. Kemarin (19/3) gedung berukuran 16 meter x 40 meter tersebut diresmikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin.Din mengatakan GMSC diharapkan dapat meningkatkan prestasi pelajar SMA Muhammadiyah 7 Jogja. Prestasi tersebut, tidak hanya datang dari bidang akademik saja melainkan dari non-akademik melalui kegiatan olah raga maupun keterampilan lain.”Kegiatan pembelajaran tidak hanya dilangsungkan di dalam kelas. Di luar kelas harus dilakukan supaya suasana belajar tidak membosankan,” jelas Din, kemarin.Menurut Din, kemajuan siswa-siswa Muhammadiyah sangat bergantung dari para guru dan sarana pembelajaran. Din berharap guru-guru Muhammadiyah memiliki semangat memajukan siswa dari segi intelektualitas maupun perilaku yang berkarakter, sesuai harapan Muhammadiyah.”Guru-guru Muhammadiyah tidak sekadar menjadi pengajar. Tetapi harus bisa menjadi pendidik. Karena kegiatan pembelajaran sifanya berulang-ulang, maka nyaris menjadi kaset. Jika cara belajar tidak di-upgrade, maka akan sangat menjemukan,” terangnya.Din berharap pemanfataan gedung GMSC bisa menghasilkan siswa-siswa unggulan di berbagai bidang. Baik olah raga maupun seni.Di tempat yang sama, Kepala SMA Muhammadiyah 7 Jogja Abdul Qudus menjelaskan gedung GMSC tidak hanya diperuntukan bagi warga SMA Muhammadiyah 7. ”Siapan saja warga Muhammadiyah yang ingin menggunakan gedung tersebut kami persilakan,” jelasnya.Menurut dia, gedung di atas tanah seluas 2.700 meter2 tersebut merupakan gedung milik Muhammadiyah yang diserahkan kepada SMA Muhammadiyah 7 sebagai pengelola. ”Kami akan manfaatkan gedung ini sebagai sarana peningkatan prestasi belajar siswa Muhammadiyah,”jelasnya. (bhn/iwa) |
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 10 of 57 |