Kamis, 29 Juli 2010

Sport

Pertarungan Klasik Lebih Asyik

[Selasa, 28 Juli 2009]

Pertarungan Klasik Lebih Asyik

DALAM sejarah hukum Amerika, pernah terdapat sekawanan perampok bank yang sangat menjengkelkan polisi.

Gesit, tak punya rasa takut, dan sulit ditangkap. Kawanan itu dipimpin perampok berbakat yang tidak mudah grogi, John Dillinger (Johnny Depp).
Pihak polisi benar-benar serius menggarap kasus Dillinger sampai-sampai menugaskan agen terbaiknya Melvin Purvis (Christian Bale) untuk memimpin operasi Dillinger. Purvis mewakili karakter seorang polisi sejati. Tidak mudah digertak, cerdas, dan berkemampuan tinggi.
Segera setelah ditunjuk untuk menangkap Dillinger, Purvis membentuk tim ahlinya sendiri. Bukan hal mudah menangkap Dillinger. Setelah tertangkap pun, Dillinger selalu menemukan cara untuk kabur. Jadi, tugas utama Purvis sebenarnya adalah menjaga agar Dillinger tetap ada dalam penjara.
Dengan segala kecerdasan dan kelebihannya, Dillinger dan kawan-kawannya berkali-kali mengelabui polisi. Mereka bisa tiba-tiba mendatangi sebuah bank, merampok uangnya, dan memastikan dirinya tidak diikuti polisi. Catatan rekor mereka dalam merampok sebuah bank juga fantastis, kurang dari dua menit!
Peserta Movie Club minggu ini Wahyu Nur Cahyo, Windi Wahyu Ningtyas, Retno Sekar, dan Lilik Setiawan serasa kembali ke zaman jadul, di mana pertempuran ala koboy masih banyak terjadi. Tepatnya tahun 1934. Di tahun itu, tidak banyak peralatan canggih yang bisa memudahkan tugas polisi. Jangankan alat pelacak, GPS, dan kamera pemindai wajah, telepon saja masih jarang.
’’Bahkan menyadap telepon saja alatnya rumit sekali. Tidak ada radio atau telepon seluler yang bisa dipakai, sehingga para polisi yang tersebar harus menggunakan telepon umum untuk saling berhubungan,’’ terang Wahyu.
Saking terbatasnya kemampuan dan alat pendukung, bila baku tembak dilakukan malam hari, memastikan mana musuh dan mana teman adalah hal sulit. ’’Misalnya waktu Purvis berteriak kepada temannya, menanyakan apakah yang baru saja keluar adalah Dillinger. Temannya hanya berteriak sepertinya iya. Bahkan memastikan itu musuh kita atau bukan saja susah,’’ jelas Retno.
Bukan itu saja, teknologi senjata api juga belum semaju sekarang. Senjata otomatis terlalu jauh untuk dibayangkan, karena nyatanya, pistol berbunyi pelan saja tidak ada. Maka, setiap ada baku tembak, rasanya seperti pesta petasan sedang terjadi.
’’Bising banget deh pokoknya! Heboh dan ramai. Asap di mana-mana, suara-suara pistol juga seperti petasan. Tapi ternyata, seru sekali ya melihat pertempuran ala tahun 30-an. Semuanya mengandalkan taktik dan kemampuan personal setiap orang. Tidak mudah menandai mana musuh dan mana kawan, makanya tidak bisa seenaknya,’’ terang Retno.
Wahyu berpendapat, film baku tembak klasik Amerika di film ini sangat bisa dinikmati. ’’Meski senapannya jadul dan jauh dari modern, kesan heroiknya dapat. Bahkan gaya Dillinger memegang senjata dengan kedua tangannya aja keren,’’ tuturnya.
Orisinalitas dalam bertarung inilah yang tidak bisa ditemukan di banyak film modern lain. Klasik, ramai, dan fair. ’’Fair karena semua orang harus berhadapan secara terbuka dan dalam jarak dekat. Hampir tidak ada yang pakai sniper atau menembak dari belakang. Semuanya terbuka,’’ tambahnya.
Film ini juga memberi banyak detail dalam menangkap ekspresi kesakitan pada orang yang tertembak. Bagi yang tidak suka darah, cipratan darah di film ini mungkin bisa membuat tidak nyaman, bahkan terkesan sadis. Tapi bagi yang suka pada film-film detail, Public Enemies pasti akan menyenangkan untuk ditonton.
’’Sepintas mungkin kesannya jijik ya, ada darah di mana-mana, tapi sebenarnya, itu detail yang bagus. Apalagi, ekspresi mukanya juga diperlihatkan. Serasa lebih nyata dan mendekati cerita sebenarnya,’’ ujar Lilik.
Lilik juga menilai, detail-detail lain diperhatikan dengan baik. Tidak hanya mobil, senjata, tapi juga pakaian. Dari penggambaran yang ada, terlihat bahwa preampok bank zaman itu sama kerennya dengan polisi dan kalangan lainnya.
’’Klimis-klimis dandanannya. Rapi dan keren, tidak beda dengan polisi. Jadi, pendapat kalau orang jahat identik dengan yang kucel-kucel itu datangnya dari mana ya?’’ tanya Windi.
Di sini juga diperlihatkan, Dillinger yang perampok tidak jahat kepada setiap orang. Kepada nasabah bank yang kebetulan berada di dalam bank saat perampokan, Dillinger tidak pernah mengambil uang mereka. ’’Prinsipnya kan jelas, mereka mengambil uang bank, bukan uang nasabah, makanya dia baik kepada nasabah bank meski saat itu dia sedang merampok,’’ kata Retno.
Dillinger juga baik dan selalu bersikap manis kepada kekasihnya Billie Frechette (Marion Cotillard). ’’Saat bersama Billie, dia tidak jahat dan suka mengatur. Secara umum, John Dillinger mungkin mewakili tipe perampok yang beradab ya. Perampok yang memuliakan manusia,’’ tambahnya. (luf)

Trivia:

  • Film ini menggunakan lokasi asli di mana Dillinger dan FBI pernah baku hantam, yaitu Little Bohemia di Manitowish, Wiscounsin. Sampai saat ini, pondok tempat baku tembak masih bisa dilihat.
  • Karakter asli Dillinger, Purvis, dan lainnya jauh lebih muda dari pemeran mereka di film ini.
  • Quote terkenal di film ini, ’’we’re here fot the bank’s money, not yours’’ adalah quote yang dibuat sendiri oleh Dillinger. 

 

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.