Kamis, 29 Juli 2010

Sport

Semangat dari Sudut Gunung

[Selasa, 7 Juli 2009]

Semangat dari Sudut Gunung

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku


POTONGAN lagu Tanah Airku itu mungkin sudah mulai tidak akrab di telinga kita sekarang. Untuk itu, rasanya kita perlu berterimakasih pada film King. Lewat film anak-anak ketiga yang dihasilkan Alenia Pictures itu, tidak hanya Tanah Airku yang membuat sentimen nasionalisme meningkat. Tapi juga yel-yel khas suporter Indonesia saat mendukung tim bulutangkis bertanding. Teriakan Indonesia yang diikuti tepuk tangan lima kali.
Di antara sedikit hal yang mengangkat nama Indonesia, bulutangkis salah satunya. Bahwa bulutangkis Indonesia saat ini sedang ’’mati suri’’, itu lain perkara. Tapi negeri ini pernah punya, dan masih akan menghasilkan juara-juara yang bisa berbicara di pentas dunia.
Bagi Sutejo (Mamiek Prakosa), Liem Swie King adalah pahlawan yang sebenarnya. Kecintaanya terhadap King dan Bulutangkis sangat besar, meski dia bukan siapa-siapa. Tejo hanya seorang komentator pertandingan bulutangkis antarkampung. Hubungan langsungnya dengan bulutangkis juga tak ada, selain bahwa dia adalah pengumpul bulu angsa untuk bahan shuttlecock.
Kecintaannya yang besar pada bulutangkis diturunkan kepada Guntur (Rangga Raditya), putra satu-satunya. Dengan cara sangat keras, dia berusaha membentuk Guntur menjadi atlet bulutangkis yang hebat. Hukuman fisik kerap diberikan bila Guntur kalah bertanding.
Tentu saja Guntur sering kalah bertanding. Dengan raket kayu yang sudah bengkok, bagaimana dia bisa bermain maksimal? Meskipun Guntur adalah pemain hebat, tanpa raket yang layak, permainannya tidak pernah maksimal.
Untungnya, Guntur sering mendapat bantuan dari teman dekatnya, Raden (Lucky Martin) dan Michele (Valerie Thomas) serta orang-orang di sekitarnya seperti Kang Raino (Ario Wahab), Pak Herman (Surya Saputra), Wo Jarkoni (Gerry Puraatmadja), Pak Lurah (Wawan Wanisar), dan Bang Bujang (Asrul Dahlan).
Hubungan Guntur dan bapaknya jarang akur. Bapak menolak menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya terang-terangan karena takut Guntur menjadi anak lembek. Sebaliknya, Guntur merasa bapak tidak sayang karena tidak pernah memerhatikan. Padahal sejak ibunya meninggal, dia tidak punya siapa-siapa lagi selain bapaknya.
Guntur, anak bersemangat tapi sering ngambek itu, ingin sekali menang lomba bulutangkis yang ada di kelurahan. Bila menang, dia dapat piala yang –konon kata Raden- berisi banyak uang. Dengan uang yang banyak, dia bisa beli raket. Dengan menjadi juara, bapaknya akan berhenti menghukumnya.
Ternyata, setelah menang, tidak ada uang dalam piala. Marah dan kecewa, Guntur sekarang tidak hanya ngambek pada bapak, tapi juga pada Raden. Namun, Raden yang bersemangat dan baik hati tidak patah arang. Dia malah mendaftarkan Guntur diam-diam ke klub bulutangkis yang dipimpin Pak Herman.
Setelah ikut klub, Guntur benar-benar belajar bulutangkis dengan serius. Segala cara ditempuhnya, termasuk berjalan kaki ke klub karena sepeda yang dipakainya rusak, untuk bisa berlatih bulutangkis. Impiannya, ingin pergi ke Kudus dan menjadi anggota PB Djarum, tempat di mana King pernah belajar.
King adalah debut pertama Ari Sihasale menjadi sutradara. Not bad. Malah indah. Kesederhanaan desa Jampit, desa tempat tinggal Guntur, yang terletak di kaki gunung terpotret sempurna. Beberapa adegan pertandingan bulutangkis yang berlangsung antara Guntur dan lawan-lawannya juga disajikan dengan baik, meski porsinya kurang.
Satu yang membuat film ini punya citarasa lebih, musik pendukungnya dahsyat. Ipang BIP dan Ridho Slank mempersembahkan empat lagu untuk mengisi soundtrack film ini. Lagu utama Jadilah Juara menggemakan dengan jelas semangat dan kegigihan mencapai sesuatu. Lebih dari itu, lagu itu menyuarakan kembali kecintaan terhadap negeri dan harga diri bangsa.
Musisi lain yang juga terlibat di dalamnya adalah pasangan suami istri Aksan dan Titi Sjuman. Meski keduanya identik dengan musik Jazz, kepiawaian mereka menggubah lagu-lagu nasional dan menciptakan score yang menusuk hati cukup berhasil.
Menonton film ini, kita diajak berpikir dan bertindak optimistis. Ada banyak Guntur-Guntur lain di luar sana. Everything’s possible! (luf)

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.