|
[Rabu, 8 Juli 2009] Lebih Panjang, Lebih Oke…. KELIMA bookaholic ini berpendapat ketiga cerita cukup bagus.
Mereka pun berpikiran lebih baik buku ini dibuat tiga novel sekalian. Daripada hanya berwujud cerita pendek, akan lebih baik kalau konflik diperbanyak dan cerita diperpanjang. “Seru deh kalau ceritanya diperpanjang. Jadi Sanie tidak perlu terburu-buru sampai di akhir cerita. Bahasanya juga indah, jadi kita pasti tidak bosan bacanya, meski panjang,” ujar Sekar. Ketergesaan Sanie menyelesaikan akhir cerita memang menjadi konsekuensi. Buku ini dibagi tiga cerita. Makanya setiap cerita punya porsi yang terbatas. “Upaya Sanie mempersingkat cerita tidak terlalu kelihatan sih. Tapi tetap saja kita yang membaca merasa kurang. Misalnya cerita pertama. Singkat banget konfliknya,” ujar Bulbul. Putri dan Sekar juga mendukung pendapatnya. Tapi bukan berarti mereka tidak suka dengan model cerita pendek yang dibawa Sanie. “Dengan model cerita pendek seperti ini, bagus juga kok. Kita suka. Tapi akan lebih baik kalau dipanjangkan,” terang Putri. Di tengah diskusi, sempat muncul pertanyaan, apakah Sanie B. Kuncoro seorang penulis laki-laki atau perempuan. Setelah mengetahui Sanie B. Kuncoro adalah seorang penulis perempuan, beberapa dari mereka sedikit terkejut. “Aku kira tadinya laki-laki. Soalnya namanya terdengar seperti laki-laki sih. Tapi dari gaya penulisan, dia kelihatan ceweknya sih,” kata Nurman. Lagi-lagi, ini disebabkan kurangnya informasi tambahan di buku ini. Tidak ada biodata singkat, apalagi foto diri penulisnya. “Adanya cuma keterangan terbatas di sampul belakang tentang Sanie. Tidak hanya singkat secara cerita, tapi juga singkat secara biografi,” papar Nena. Intinya, bila buku ini berisi lebih banyak informasi, lebih baik. “Lebih panjang, lebih oke. Ceritanya, dan juga keterangan penulisnya,” kata Sekar. (luf) |