|
[Rabu, 09 September 2009] It is very simple to be happy, but it is difficult to be simple… PEKERJAAN tersulit dalam hidup adalah berpikir! Semakin banyak kita berpikir, semakin kita merasa pekerjaan kita berat dan hidup kita sulit. Jika saja kita mengurangi berpikir, kita akan lihat bahwa hidup kita sebenarnya baik-baik saja. Seorang nelayan kecil di Meksiko hidup sederhana. Dia pulang melaut membawa hasil tangakapn secukupnya. Setelah itu makan siang dengan istrinya. Tidur siang, kemudian bermain dengan anak-anaknya di sore hari. Malam hari adalah saatnya berkumpul beberapa saat dengan teman-temannya. Hidupya sederhana, teratur, dan merasa cukup. Seorang pengajar ahli di sekolah bisnis terkenal di Amerika melihatnya. Sang ahli berpendapat nelayan itu kurang berusaha keras dalam hidup. Andai saja dia berusaha menangkap lebih banyak ikan, dia akan dapat lebih banyak uang untuk mengembangkan usahanya. Bila usahanya sudah berkembang dengan baik, dia tidak perlu bekerja lagi. Tapi, jawaban sang nelayan sederhana membuat ahli di sekolah bisnis itu terkejut. “Mengapa kita harus bekerja begitu keras dan menjadi kaya raya terlebih dahulu, barulah kita bisa merasa berkecukupan?” Cerita nelayan ini adalah salah satu favorit Yesika Moerindah, Anggie Ferdiany, Yulianti Puji Hartanti, Renny Dwi Puspita, dan Henny Dwi Astuti. “Menohok sekali. dan memang benar. Kenapa ya kita selalu berpikiran uang lebih artinya membuat hidup semakin mudah,” ujar Henny. Jika mau dipikir secara logika, makin banyak uang, makin tinggi pula kekhawatiran kita. “Khawatir saham kita turun lah. Khawatir toko kita nanti dirampok, khawatir anak kita nanti diculik. Pokoknya jadi berpikiran macam-macam,” sambung Renny. Menjadi bahagia adalah saat kita merasa cukup dan bersyukur. “Hidup kita jadi tenang dan tidak ngoyo. Jadi lebih menikmati hidup,” tambahnya. Seperti nelayan Meksiko itu. Dia tidak ngoyo mencari hasil laut sebanyak mungkin. Dengan begitu, dia bisa tetap menjaga hidupnya sederhana. “Gaya berpikir seperti itu tidak dimiliki sebagian besar dari kita. Aku lumayan terkesan dengan cara pikir si nelayan. Tapi juga tidak menyalahkan cara pikir si ahli dari sekolah bisnis. Di dunia yang penuh kompetisi, kita tidak akan bisa maju jika berpikir sederhana dan tidak ngoyo,” tutur Yesika. Para pengusaha yang setiap hari kerjanya menumpuk kekayaan, sebenarnya tujuan hidupnya sama saja, menjadi bahagia. Hanya saja, caranya yang berbeda. Tidak semua orang bahagia hidup sederhana. Ada yang bahagia bila hidupnya dikejar target. “Jadi sebenarnya tidak salah-salah amat kalau kita berpikir seperti itu. hanya saja, biasanya kita kesulitan mengontrol keinginan dalam hidup. Soalnya kalau dituruti, tidak ada habisnya. Jadi, kalau kita terbiasa menurutkan keinginan pribadi dan nafsu saja, jadinya tidak pernah bersyukur,” katanya memberi penjelasan. Jadi, hidup sederhana adalah bentuk antisipasi terhadap sifat dasar manusia, yaitu memiliki lebih. “Karena tahu bahwa kita tidak akan puas memiliki berapapun kekayaan, makanya kita harus belajar mengontrol diri dari awal. Ya mirip si nelayan itu lah. Mengambil secukupnya saja. Dengan begitu, dia tidak ingin lebih dan lebih lagi,” papar Yulianti Puji atau Yulie. Kelima gadis ini mengaku suka dan kagum dengan gaya bercerita sang penulis buku Cacing dan Kotoran Kesayangannya, Ajahn Brahm. Dia sendiri seorang pria kelahiran London, seorang sarjana Fisika di universitas yang memutuskan menjadi Biksu. Dia belajar menjadi biksu di Thailand dan mengabdi di sebuah vihara di Australia. “Gaya bertuturnya sama sekali jauh dari kesan menggurui. Tapi pendirian dan pandangan hidupnya tentang kesederhanaan tercermin jelas dari cerita-ceritanya. Banyak banget yang bagus dan inspiratif,” puji Yulie. Sebagai seorang Biksu, Brahm jelas harus hidup sederhana. Seorang biksu bahkan tidak diperbolehkan menyetir mobil, menerima pemberian uang dari orang lain, dan hidup bersenang-senang. Mereka juga tidak pernah makan banyak dalam sehari dan harus bangun pagi dan melakukan meditasi. Pendeknya, kehidupan yang sederhana. Cenderung kekurangan malah. Tapi, seperti yang tertera jelas di tulisan-tulisannya, dia menikmati betul hidup menjadi seorang biksu. “Padahal kehidupan biksu jauh sekali dengan kehidupannya yang dahulu. Dia harus mengubah banyak hal, dan belajar banyak hal dalam hidup. Kadang dengan cara yang tidak disukai, malah. Tapi dia terlihat sangat bahagia,” ucap Renny. Kelima bookaholic ini berusaha menganalisa sumber kebahagiaan Brahm. Akhirnya, mereka menyimpulkan satu hal. Brahm bahagia karena menjadi dirinya sendiri. Dan menjadi diri sendiri menjadikan hidup jauh lebih mudah, jauh lebih sederhana, dan jauh lebih berbahagia. “Dia memilih sendiri jalan hidupnya. dia konsisten, dan dia bangga pada apa yang dia pilih. Itu sudah menyederhanakan banyak hal.,” tutur kelimanya. Setuju! (luf) |